Episode sebelumnya ada di sini
NuansaSport – Setda Sultra FC datang ke lapangan bukan bawa amarah, bukan pula ambisi membalas kekalahan 8-2 pada laga sebelumnya. Mereka datang dengan satu misi yang agak lain plot twistnya, “Malas Dendam.” Bukan berarti enggan membalas, melainkan punggawa Setda terlalu sibuk mencetak gol hingga tak sempat mengungkit luka lama. Hasilnya, Dispar FC dipaksa mengakui keunggulan Setda 5-3.
Begitu mi uniknya main bola — kadang balas dendam terbaik bukan mengulang skor lama, melainkan membuat tim lawan pulang sambil mengingat skor yang baru. Kan, untu apa juga ingat-ingat luka lama, kalau bisa kasi luka baru?
Dendam memang harus dibayar tuntas, tidak ada dendam yang cukup dibayar dengan uang. Yang terjadi Rabu Magrib di Lapangan Aleena, pukul 18.00 WITA, jelas masuk kategori pertama. Setda Sultra FC, tim yang lima bulan lalu reputasinya sempat “terlecehkan” habis-habisan dalam pemberitaan delapan gol tanpa balas, akhirnya menuntaskan urusan itu dengan cara paling elegan, menang telak 5–3 atas Dispar Sultra FC.
Bagi yang masih ingat, kekalahan telak Februari lalu itu bukan cuma soal skor. Beritanya tersiar ke media daring, lengkap dengan narasi yang, anggapmi, nda terlalu ramah untuk harga diri sebuah tim. Nah,,Rabu kemarin, Setda tidak butuh siaran pers untuk membalasnya. Cukup satu babak penuh determinasi.
Empat nama menopang kemenangan kubu Setda. Ahnaf, Simba, dan Dzul masing-masing menyumbang satu gol — kontribusi yang di atas kertas terlihat sederhana, tapi justru itulah yang membuat performa Setda kali ini terasa matang. Bukan permainan yang bergantung pada satu orang yang jago, melainkan hasil kerja kolektif yang rapi, sesuatu yang absen total di pertemuan sebelumnya.
Namun Player of the Match sesungguhnya sore itu adalah Fajar. Dua gol dari kakinya membuatnya berhak menyandang sebutan pencetak brace — istilah yang di dunia sepak bola disematkan khusus untuk pemain yang membukukan dua gol dalam satu pertandingan, satu tingkat di bawah hat-trick namun tak kalah penting secara psikologis. Setiap kali brace tercipta, tempo permainan biasanya berubah; lawan mulai ragu, dan pertahanan mulai membaca ulang seluruh rencana. Itulah yang terjadi pada Dispar kemarin itu.
Yang menarik, kedua gol Fajar datang dengan karakteristik berbeda, satu hasil kecerdasan membaca ruang, satu lagi murni naluri seorang predator gol yang tahu persis kapan harus egois. Kombinasi lima gol dari empat algojo berbeda menunjukkan Setda tidak lagi bermain untuk satu nama, melainkan untuk satu misi. Misi Malas Dendam. Mungkin mi.
Namun, penting digarisbawahi, Dispar tetap berbahaya, meski tak dalam kondisi terbaiknya. Kekalahan Dispar bukan karena mereka kehilangan kelas. Tiga gol balasan dari Simon Elissetche dan Iwan membuktikan naluri mencetak gol tim ini masih hidup. Iwan bahkan tampil beringas. Ia seperti melampiaskan kekesalannya, karena junjungannya Cristiano Ronaldo pulkam lebih dini pada helatan World Cup 2026.
Tapi sepak bola sering kali ditentukan bukan oleh siapa yang paling berbahaya di atas kertas, melainkan siapa yang paling siap pada hari itu. Dan Rabu kemarin, kesiapan itu berat sebelah. Beberapa pemain inti Dispar diketahui masih dalam masa pemulihan cedera, kondisi yang jelas membatasi eksplosivitas mereka di lapangan yang menuntut kecepatan perubahan arah. Ditambah lagi, intensitas latihan bersama belakangan ini berkurang seiring kesibukan masing-masing pemain di luar lapangan — sesuatu yang wajar terjadi pada tim mana pun, namun tetap berpengaruh pada kematangan stamina.
Dan tentu saja, ada satu nama yang absennya paling terasa; Pace Romi. Gelandang veteran yang dikenal dengan jurus taputar — manuver gasing yang kerap membuat lawan kehilangan orientasi hidup hanya dengan satu putaran selangkangan — tidak tampil sore itu. Kabarnya, sang maestro sedang menuntaskan misi yang tak kalah genting di rumah, mengejar ayam peliharaannya yang entah kenapa memilih hari pertandingan untuk melarikan diri. Kehilangan seorang Pace Romi di lini tengah, betapapun terdengar jenaka alasannya, adalah kehilangan satu variabel tak terduga yang biasanya membuat lini tengah lawan pusing sembilan keliling.
Hal ini belum lagi ditambah dengan komunikasi dan koordinasi antar pemain Dispar yang mulai tidak sejalan. Padahal Dispar sering tampil memukau dengan strategi grasa grusu.
Ada satu momen yang menunjukan realitas komunikasi itu mulai berantakan yaitu cara throw in Hans yang lumayan biadab.
Saat itu Hans berniat melempar bola jauh ke depan, tepat ke arah saya yang sudah stand by di depan gawang. Ancang-ancang sudah mantap, tenaga sudah dikumpulkan, dan bola pun dilepaskan dengan penuh keyakinan dan kekuatan maha dahsyat.
Namun rupanya, bola punya agenda sendiri.
Alih-alih meluncur jauh ke depan, bola justru melesat kencang menghantam ulu hati Ilham yang berdiri hanya beberapa meter di hadapan Hans.
“BUKK!” (terdengar seperti suara gumbang kena hantam), bunyi benturannya terdengar cukup keras—lemparan itu seolah-olah bukan sedang bermain sepak bola, tapi menguji kualitas beton. Gaya lemparnya sudah mirip adegan lempar lebah.
Ilham pun mendadak menjadi tembok hidup. Sayangnya, tembok itu tidak memiliki fitur rebound terkontrol. Bola memantul deras ke arah nda jelas, sementara Ilham hanya bisa menahan nyeri sambil mencoba memahami satu pertanyaan besar dalam hatinya; “Hans, sebenarnya tadi mau throw in atau mau bunu saya, kira-kira apa salahku sama dia ya?”
Yang jelas, operan itu gagal mencapai sasaran, tetapi sukses mencapai dada Ilham dengan akurasi 100 persen. Kalau pagi ini dia izin tidak apel pagi, berarti fix lagi pergi ronsen paru-paru.
Dalam sepak bola, ada assist yang menghasilkan gol. Ada pula throw in yang menghasilkan paru-paru basah.
Dengan catatan-catatan itu, kekalahan Dispar hari ini pantas dilihat sebagai anomali sesaat, bukan potret performa sesungguhnya. Tim ini tetap harus diwaspadai begitu skuad penuhnya kembali fit dan Pace Romi berhasil mengamankan unggasnya. Ada Ranto dan Aldi yang masi baku urus dengan Menaker.
Juga Ivan yang mungkin sedang cedera psikologisnya setelah pindah di UPTD. Komang 1 tidak main karena enggan beli sepatu bola baru. Komang 2 masih sibuk urus ternak. Mereka-mereka ini, walaupun skill individunya diragukan umat, tapi daya merusak strategi permainan lawan sungguh luar biasa nene moyang. Dispar sangat butuh mereka untuk bikin peluang dari situasi kemelut. Skill mereka adalah kemampuan menjinakkan bola-bola liar. Karena umpan/assist bagus selalunya di buang percuma. Tapi kalo di oper sembarang, eh bisa gol.
Bagi Setda Sultra FC, kemenangan 5–3 ini adalah lebih dari apapun. Ini adalah jawaban senyap, namun menyisakan gema menyakitkan di hati para pemain Dispar. Setelah lima bulan menahan kesan pahit sebuah judul berita yang menyebut mereka “babak belur”, pasukan Setda kini punya babak baru untuk diceritakan, babak balas dendam yang dituntaskan dengan kepala tegak, tanpa perlu menjatuhkan siapa pun untuk terlihat bangkit.
Skor akhir mungkin hanya beda dua gol. Tapi bagi yang paham betul beban cerita di baliknya, jarak itu terasa jauh lebih lebar dari angka yang tertera di ingatan kolektif kita. (*)

Sebelumnya 8-4 bukan tanpa balas 🙏🏻
oh iyakah om, Siap,,hehehe,,,mantap2. Luarbiasa mainnya Setda