Diterpa Badai Cedera “Aneh”, Skuad Dispar Optimis Raih Poin Penuh

Dispar Matchday

NuansaSport – Kalo soal kalah, kita menang. Kira-kira begitu itu saya menggambarkan kondisi Dispar pada lima laga terakhirnya sebelum turnamen ini bergulir.

Menjelang laga Round 1 Turnamen Mini Soccer Pemprov Sultra kontra Biro Pemerintahan dan Otda, Kamis pagi pukul 08.00 WITA di Lapangan Kantor Gubernur, kubu Laskar Bokori disibukkan oleh satu hal yang jauh lebih dramatis dari taktik, yaitu daftar cedera “aneh” yang sedikit lagi menyerempet hal-hal mistis.

Bagaimana tidak? masing-masing pemain punya skenario cedera. Rasa-rasanya badai cedera ini akibat kualat. Terlalu keseringan main bola. Sebagai ASN, agak aneh memang kalo tiap hari yang diurus sepakbola terus. Pekerjaan tertunda, anggaran takuras. Jadi wajar, kalo tuhan kasi banyak yang cedera.

Namun, di bawah asuhan Kadispar Sultra, manajemen Laskar Bokori memastikan situasi tersebut tidak akan menyurutkan semangat tim untuk bertarung sampe tipes.

Mari kita bedah satu per satu korban cedera dari skuad the Sunrise, karena masing-masing punya kisah yang layak digunjingkan.

Dimulai dari pemain bernomor punggung 7, Anggoro. Ia baru saja menuntaskan masa pemulihan setelah hampir tiga bulan berurusan dengan cedera angkel yang asal-usulnya masih belum sepenuhnya terpecahkan dan tidak sembuh-sembuh. Bahkan kalau ditanya kronologinya, kemungkinan jawabannya masih berupa, “Nda tau eh, pokoknya waktu itu tablengker begitu saja.”

Selama menepi, kakinya cukup bagatal, kadang menendang-nendang sendiri. Ini mistis banget.

Begitu kondisinya mulai terasa lebih baik, muncul keputusan yang cukup berani, kembali merumput. Padahal, kalau mengikuti logika kesehatan, sebenarnya masih perlu waktu untuk bersantai sedikit lebih lama. Tapi namanya juga turnamen, kesempatan bermain tidak datang setiap hari. Kan, kalo bukan kapan, ya sekarang lagi.

Akhirnya, ia memilih kembali ke lapangan dengan satu modal utama, kondisi yang sudah lumayan membaik dan keyakinan bahwa kaki kiri bisa diajak bekerja sama.

Targetnya simpel, bisa menyelesaikan pertandingan dalam keadaan hidup-hidup.

Lalu ada sang kapten, Syamsul, figur yang usianya masih bisa dituduh muda, tapi kondisi sendi-sendinya selevel dengan para veteran yang baru saja diperingati hari jadinya. Beberapa titik lututnya kini butuh alat topang, entah decker, entah perban, entah panace, yang jelas banyaklah tempel-tempelnya. Dia baru saja membeli pengikat lutut, apalah istilahnya itu, yang jelas, ketika pakai itu, saya lihat dia sudah seperti robot Cyborg.

Tapi soal mental, jangan ditanya, kapten tetaplah kapten, persendian boleh berderit, instruksi tetap menggelegar dari tengah lapangan. Targetnya juga tidak muluk, semoga bisa menyelesaikan turnamen dengan engsel yang masih utuh.

Lini depan juga tak luput dari terjangan. Ilham, striker keras asal pegunungan Enrekang yang terkenal dengan gaya bermain baku tabrak, harus menanggung akibat dari kebiasaan buruknya sendiri. Pada laga eksebisi pekan lalu, akilesnya jadi tumbal dari caranya bermain yang lebih mengandalkan tenaga daripada teknik. Kalo kontrol bola dia suka ugal-ugalan. Sudah saya kasitau berkali-kali bahwa lawan itu untuk dilewati, bukan ditabrak, tapi rupanya nasihat itu tidak sampai ke telinganya, atau mungkin sudah sampai tapi kalah cepat dengan nalurinya. Naluri bikin gol. Dari tampangnya, dia memang orangnya nafsuan, kalo urusan gol.

Selain itu, ketajaman lini serang juga bisa berkurang dengan kondisi kanda Haji Syafril yang mencurigakan. Kemarin sore di grup WA, beliau memposting adegan rendam kaki dengan es batu. Entah ini terapi, perenggangan atau mau bikin sirup, yang jelas anggota tim ini sedang tidak baik-baik saja. Club memang membutuhkan pemain sekaliber kanda Haji Syafril. Sebagai seorang striker murni yang hobi menendang ke angkasa ini, ia bisa sangat berbahaya ketika tidak ada yang jaga.

Cedera berikutnya agak di luar kebiasaan medis, dialami oleh Komang. Kasusnya bukan cedera fisik, melainkan cedera harga diri. Reputasinya porak-poranda. Sudah jauh-jauh hari ia bertindak sebagai EO, merencanakan laga eksebisi di kampung halamannya di Jati Bali, sudah booking lapangan, sudah kabar-kabar ke seantero kampung soal jadwal pertandingan, eh, ujung-ujungnya batal karena pemain yang tersedia tidak cukup untuk membentuk satu tim utuh. Dia mungkin ngambek, malu sama orang sana. Untungnya cedera jenis ini tidak butuh rontgen, cukup dihibur secukupnya dan diperbaiki absennya yang kelupaan.

Kondisi Ivan juga tak kalah mengkhawatirkan, meski dari sisi yang berbeda. Beberapa hari terakhir badan striker yang tidak membahayakan ini, diserang meriang berkepanjangan, sampai sempat terbersit niat untuk gantung sepatu. Saya curiga dia habis dengar vonis dokter, semangatnya ikut drop, mungkin ini yang oleh kalangan medis lapangan hijau disebut cedera psikologis, jenis cedera yang tidak kelihatan di MRI tapi sangat terasa di grup WhatsApp tim. Sudah cukup lama dia tidak ikut merumput bersama tim. Kalo hari ini ikut main, urat-uratnya harus adaptasi ulang lagi.

Namun dari seluruh daftar korban, yang paling serius adalah Iwan. Cederanya bukan main-main, sampai harus menjalani tindakan operasi. Ceritanya bermula usai laga eksebisi pekan lalu di Aleena, ia mengaku ususnya bergetar tak wajar. Saya baru dengar juga istilah diagnosa “Usus Bergetar” ini. Drama ini terjadi ketika usai match ia izin pulang mandi di kos milik seorang teman cewe, setelah itu tiba-tiba saja kabar beredar bahwa ia sudah dilarikan ke rumah sakit. Eits jangan terlalu detail untuk ini, sepertinya butuh tim investigasi tersendiri untuk mengurai kronologinya secara utuh. Yang jelas, semoga Iwan bisa pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat.

Dengan susunan pemain yang lebih mirip ruang tunggu poli ortopedi ketimbang starting eleven, wajar jika banyak pihak bertanya-tanya, dari mana datangnya rasa optimis itu. Atau sampai ada yang berjudi untuk tidak mengunggulkan Dispar. Tapi begitulah Dispar Sultra FC, tim yang selalu percaya bahwa gaya grasa-grusu dan mental baja bisa menutupi kekurangan fisik, minimal sampai menit ke-20. Remontada adalah nama tengah skuad berjuluk penjaga cakrawala ini.

Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah pagi ini boleh saja datang dengan skuad yang segar bugar tanpa cerita cedera aneh-aneh. Tapi Laskar Bokori punya modal lain yang tak kalah berharga, yaitu pengalaman bertahan hidup di tengah badai cedera yang datang silih berganti tanpa permisi. Skuad Biro Pemerintahan harus melewati duet lini belakang Dispar Hans dan Ikbal. Dua kombinasi racun mematikan yang siap mengubur striker lawan. Pemain yang kita juluki saja sebagai “batu kubur” ini, hanya akan memberi dua opsi pada kubu lawan yang hendak melewatinya, mau kartu merah atau rumah sakit. Titik, that’s it.

Pukul 08.00 pagi ini, Lapangan Kantor Gubernur akan jadi saksi, apakah semangat optimisme itu cukup untuk mengalahkan kenyataan medis, atau justru berakhir sebagai bab baru dalam catatan cedera yang makin panjang. Yang jelas, apapun hasilnya nanti, satu hal sudah pasti terjadi, tim medis mini soccer pagi ini kemungkinan besar akan jauh lebih sibuk dari wasit. (agr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *