NuansaSport – Laga antara Dispar Sultra vs Kejari Kendari di Raken akhir pekan nanti bukan sekadar adu taktik lapangan hijau, tapi pertarungan harga diri. Di tengah kesibukan mengurus Harmoni Sultra, skuad The Sunrise kini dihantui satu dogma suci, Jersey baru (the Yellow) dilarang ternoda. Kalah dengan jersey baru bukan cuma soal skor, tapi soal kutukan sakral yang bisa bertahan tujuh musim.
Mungkin pemain akan menghadapi tekanan untuk melakukan penyesuaian komposisi pemain. Mengingat laga melawan tim penegak Perda kemarin, Dispar hampir saja menuai kegagalan menang. Aksi Remontada yang dipertontonkan Satpol PP FC hampir saja mencoreng rekor tak terkalahkan Dispar. Untunglah tendangan penjuru Simon Elissetche tidak mampu ditangkis penjaga gawang. Dispar unggul tipis. Remontada batal.

Sorotan utama tertuju pada lini serang Dispar yang performanya agak abstrak pada pertandingan Jumat malam (17/4). Sang striker andalan, Ilham, menunjukkan degradasi dedikasi luar biasa. Pemain asal pegunungan Enrekang itu lebih memilih nonton konser daripada membersamai perjuangan rekan setimnya menaklukkan pasukan Satpol. Mungkin ini caranya mempersiapkan diri untuk match akhir pekan nanti. Butuh hiburan.
Di sisi lain, ada dilema pada posisi False Nine. Saya mengaku performa saya sedang merosot. Setelah mencatatkan 1500 menit waktu bermain di aplikasi desain demi flyer Harmoni yang revisinya tak berujung, wajar jika koordinasi mata dan kaki agak bergeser. Saya kesulitan dalam menjaga penguasaan bola di lini depan gara-gara terlalu sering pijit Ctrl+Z di keyboard.
Akibatnya, selalu gagal berkontribusi ketika tim membangun gelombang serangan berkelanjutan. Banyak sekali aliran bola terputus sebelum mencapai area berbahaya milik lawan.
Pertandingan melawan tim penegak Perda/Satpol PP FC saya merasa banyak sekali “menyedekahkan” peluang. Makanya, besok rencananya saya mau ke pasar dulu, saya yakin ini gara-gara sepatu, harus beli yang baru. Yang jelas supaya tidak dituduh bodoh, kalau skill buntu, biasanya alat tempur yang harus disalahkan dan diperbarui.
Dilema dan Kejutan Lini Depan Dispar
Tetap mencadangkan Ilham sebagai hukuman karena nonton konser daripada disiplin latihan akan menjadi keputusan yang sangat berani. Pasalnya, pemain yang didatangkan dari Enrekang United ini merupakan pemain liar dan gesit baku tabrak.
Pasca kemenangan tipis melawan Satpol PP FC, yang nyaris berakhir tragis kalau bukan karena tendangan pojok magis Simon Elissetche, lini depan Dispar harus berbenah.
Hal yang mengejutkan, sementara para striker sibuk dengan urusan konser, desain dan absen karena urusan keluarga, performa impresif datang dari lini belakang. Syamsul, sang pemain bertahan, mendadak jadi predator. Dalam tiga pertandingan terakhir dia seperti menggila, pemain bertahan yang justru paling rajin mengobral gol. Jika para penyerang masih sering “kurang fokus”, tidak mengejutkan jika Syamsul akan kembali melakukan penetrasi liar yang membuat barisan pertahanan Kejari kejang-kejang.
Laga hari Minggu nanti adalah pertaruhan besar. Dispar FC mengusung misi menjaga rekor tak terkalahkan. Tekanannya nyata, jika menang, Jersey baru akan terlihat seperti jirah ksatria yang gagah perkasa.
Kalau kalah, Jersey the Yellow hanya akan berakhir menjadi baju tidur yang penuh penyesalan.
Bagi Dispar, Haram hukumnya kalah. Sebab, tidak ada yang lebih memalukan daripada memakai jersey baru yang masih beraroma mesin printing, tapi harus keluar lapangan dengan kepala tertunduk lesu. Pilihannya cuma dua, berjaya dengan jersey Yellow, atau jersey itu akan dikutuk menjadi pakaian dinas menjaga Bokori.(*)

HAHAHAHAHAHAHAHA,