eRBe Cetak Rekor dan Triple Save di Laga Perdana

Ridwan Badallah melakukan triplesave pada debutnya dalam Wonderful Match.

Debut Spektakuler Ridwan Badallah dalam Wonderful Match

NuansaSport – Dalam dunia sepak bola, ada pemain yang butuh lima pertandingan untuk beradaptasi. Ada pula yang perlu satu musim agar bisa mencetak gol pertama. Namun, pada laga bertajuk Wonderful Match Internal Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, Jumat 12 Juni 2026 lalu, muncul satu fenomena yang tampaknya layak masuk buku sejarah—atau setidaknya jadi bahan perbincangan di grup WhatsApp kantor.

Pertandingan berjalan sengit dan cenderung kasihan. Melawan tim Dispar A, tim Dispar B dalam keadaan tertinggal. Di pinggir lapangan mengamati, Ridwan Badallah yang karib disapa eRBe berkacak pinggang dengan napas agak terengah-engah.

Melihat timnya dibombardir, eRBe memutuskan untuk mengambil tindakan ekstrem. Beliau memutuskan untuk masuk sebagai pemain pengganti.

Menjadi super-sub, eRBe yang baru saja melangkahkan kaki ke dalam lapangan, bahkan belum sempat menyesuaikan suhu tubuh dan penonton belum sempat ganti posisi jongko ia sudah berhasil membawa kutukan yang berbuah gol.

Lewat sentuhan magisnya ia berhasil memanfaatkan peluang dari kemelut yang terjadi di mulut gawang. Assist dari Anggoro berhasil ia konversi menjadi gol lewat sontekan yang pelan, syahdu namun mematikan. Gol yang memecah kebuntuan.

Ini merupakan rekor yang sulit terbantahkan. Masuk lapangan, satu sentuhan krusial, dan gol. Belum berkeringat, sudah berkontribusi di papan skor. The real super-sub. Kalo Sebagian menyebut gol itu hanya kebetulan, maka sebenarnya, “itu adalah kebetulan yang sangat terencana.”

Ridwan Badallah a.k.a eRBe berusaha menghalau bola dari gempuran serangan lawan.

“Saya tidak perlu terlalu banya goreng bola untuk mencetak gol, aura saya sudah cukup untuk menggetarkan jala lawan,” bisik sang Bos di dalam hatinya (mungkin).

Namun pertandingan belum selesai memberikan kejutan.

Setelah mencetak gol, eRBe justru memperlihatkan bakat lain yang selama ini mungkin tersembunyi di balik tumpukan berkas dinas. Menjadi penjaga gawang.

Dengan peran lama yang terpendam itu, secara mengejutkan ia melakukan triple save. Sebuah momen luar biasa di mana ia berhasil melakukan tiga penyelamatan beruntun dalam satu rangkaian serangan yang sama.

Memasuki menit-menit akhir, tim lawan melancarkan serangan bertubi-tubi. Mereka lupa kalau yang berdiri di bawah mistar gawang adalah bosnya sendiri, orang yang menentukan nasib SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) mereka bulan depan.

Seperti tanpa ampun, sebuah tendangan keras dari Ilham dilesatkan dari sisi kiri kotak penalty. Sepakan yang meluncur deras berhasil ditepis eRBe dengan refleks atletis. Pengalamannya dalam bela diri aliran Shiroite berperan besar dalam momentum penyelematan ini.

Bola rebound langsung disambar striker lawan dengan sepakan voli, namun lagi-lagi sepakan itu membentur gesture defence eRBe. Bola yang menggelinding liar dihantam lagi oleh pemain lawan, namun dengan passion dan determinasi yang kuat ia berhasil memblok tendangan itu, lalu akhirnya bola keluar lapangan.

Tiga penyelamatan penting yang menuai decak kagum.

Tiga penyelamatan itu menunjukkan satu hal. Ketika pertahanan sedang panik, beliau memilih turun tangan sendiri, padahal awalnya striker. Filosofi kepemimpinan yang sangat birokratis, kalau bawahan kewalahan, pimpinan ikut menyelesaikan.

Laga perdana ini menghadirkan sebuah paradoks yang indah.

eRBe membuka pertandingan sebagai pencetak gol tercepat di tim.

Lalu menutup penampilannya dengan tiga penyelamatan yang membuatnya layak mendapat penghargaan “Kiper Ngeri.”

Dalam sepak bola modern, pemain serbabisa memang semakin langka. Tetapi pemain yang mampu mencetak gol, menyelamatkan gawang, memimpin tim, sekaligus membuat seluruh pinggir lapangan tertawa, tampaknya hanya muncul dalam turnamen internal Wonderful Match.

Kalau tren ini berlanjut, pak Syam (Captain) mungkin perlu menambah satu kategori penghargaan pada akhir match:

“Player of the Match, Defender of the Match, Goalkeeper of the Match… semuanya diberikan kepada orang yang sama.”

Dan kalau minggu depan beliau kembali mencetak gol di sentuhan pertama, atau melakukan save, satu-satunya pihak yang benar-benar tertekan bukan lagi tim lawan—melainkan saya, petugas pencatat statistik yang harus mulai membuat kolom nomenklatur bernama, “Kontribusi di luar nurul.”

Satu hal yang menginspirasi saya mencermati gaya permainan pak Bos ialah daya juang, antusiasme dan energi yang ia tunjukan di lapangan. Bahwa diusianya saat ini, angka pada kartu identitas hanyalah statistik, sedangkan semangat untuk terus bergerak adalah kualitas yang sesungguhnya.

Dan pada laga perdananya ini, pak Bos berhasil menunjukkan bahwa seorang pemimpin bukan hanya mampu memberi arahan dari pinggir lapangan, tetapi juga mampu menjadi teladan dengan turun langsung, berkeringat, dan menikmati setiap menit permainan bersama para stafnya.

Selamat untuk Pak Bos atas rekor gol tercepat dan triple save legendarisnya! Kalo Jogja punya cerita, Sultra punya drama.

Makanya, Ayomi ke Sultra, Mosonggi.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *