NuansaSport – Meski tampil beringas, Alel dan Jeje belum mampu mengantar Laskar Nawa-nawa ke singgasana kemenangan. Laga semalam (22/9/2026) di Aleena, nasib seperti sudah memilih siapa yang harus pulang dengan kepala tegak.
Inninawa FC boleh berlari, menekan, dan berkali-kali mengirim bola menuju jantung pertahanan Dispar, tetapi setiap kali kemenangan terasa tinggal sejengkal, tiang dan mistar datang menjadi invisible hand yang menepis harapan.
Di atas rumput sintetis, skor 3-5 akhirnya berpihak kepada Dispar Sultra FC—bukan semata karena Inninawa kehilangan permainan, melainkan karena pada malam ketika mereka paling membutuhkan sedikit keberuntungan, nasib justru memilih tamasya ke Dinas Pariwisata.
Dua gol dari Jeje dan satu dari Alel menjadi bukti bahwa lini depan Inninawa tidak datang malam itu sekadar untuk melengkapi jadwal pertandingan. Keduanya tampil dengan naluri predator, terus mencari celah memanfaatkan kebiasaan buruk pemain belakang Dispar yang kalo naik selalu lupa turun.
Determinasi semacam ini yang kemudian membuat laga terasa hidup dari menit awal — Inninawa yang dihuni para filosof sepakbola bukan tim yang menunggu keajaiban, mereka tim yang memaksa keajaiban itu datang lewat kerja keras.
Dari semua elemen permainan Inninawa semalam, yang paling bikin geleng-geleng sekaligus getir; berapa kali sepakan on target mereka justru berakhir membentur tiang atau mistar gawang, alih-alih bersarang mulus di jala. Bukan sekali dua kali, tapi berulang kali, sampai-sampai di pinggir lapangan mulai muncul bisik-bisik tetangga, bahwa ada tangan tak kasat mata yang sengaja menahan bola itu di garis.
Pengalaman itu dipertegas pengakuan seorang pemain yang kakinya terasa berat mengayun ketika bola telah berada di mulut gawang.

Entah siapa yang menyebarkan teori itu pertama kali, tapi begitu satu tendangan keras kembali memantul dari mistar untuk kesekian kalinya, tawa getir di bangku cadangan Inninawa berubah jadi gumaman serius jangan-jangan memang ada “pake-pakenya” ini dorang.
Terlepas dari benar tidaknya spekulasi gaib itu, sepertinya lebih pantas dianggap bumbu candaan ketimbang fakta ilmiah, mengingat Dispar pun dihuni pemain level internasional. Statistik tendangan on target yang gagal berbuah gol malam itu sudah cukup jadi bahan diskusi tersendiri.
Andainya separuh saja dari sepakan yang membentur besi gawang itu berhasil masuk, cerita leg kedua ini bisa jadi sudah berubah total. Inninawa hari ini mungkin sudah pesta pora. Namun, sepak bola memang keji, kadang bukan soal siapa yang bermain lebih baik, tapi soal siapa yang direstui.
Di luar drama tiang dan mistar, catatan lain yang cukup substansial dan patut diapresiasi ialah ball posses Inninawa malam itu tampil jauh lebih dominan dibanding leg pertama.
Transisi dari bertahan ke menyerang berjalan lebih terstruktur, tidak lagi terburu-buru melepas bola panjang yang jadi bumerang di pertemuan sebelumnya. Kontrol permainan yang lebih matang ini menunjukkan bahwa dua minggu jeda antara leg pertama dan kedua benar-benar dimanfaatkan untuk evaluasi, bukan sekadar ganti jersey baru.
Pressing ketat yang mereka terapkan sejak awal laga juga jadi sinyal bahwa Inninawa datang dengan rencana matang, bukan lagi modal nekat seperti laga sebelumnya.
Sayangnya, sepak bola tidak selalu memberi hadiah untuk tim yang bermain lebih baik secara statistik. Dispar tetap pulang membawa kemenangan, melengkapi dominasi mereka atas Inninawa bulan September ini.
Tapi bagi siapa pun yang jeli membaca jalannya laga, ada pesan yang cukup jelas tersirat; Inninawa FC hanya kalah skor, bukan kalah kelas. Soal tiang dan mistar yang seolah berkonspirasi menahan bola-bola mereka, barangkali itu memang bukan urusan taktikal — itu urusan antara Inninawa dengan langit yang belum berpihak.
Vamoossss Dispar.(agr)

Sepertinya dendam ini akan terus menjadi dendam. 😅🤣