“Sebenarnya tim Dispar Sultra FC bisa menang, satu-satunya kelemahan kita adalah kita cuma lemah saja,” begitu kata Komang, seorang Cules sejati. Sebuah motivasi biadab yang mampu mencabut Semeru dari akarnya.
Tadi malam ada jadwal pertandingan eksebisi bertajuk Wonderful Match mempertemukan Dispar Sultra FC VS BRI Kendari FC di Aleena Mini Soccer. Laskar Bokori julukan Dispar Sultra FC MENANG-gung malu alias kalah telak, dengan skor yang tidak ditahu berapa jumlahnya lantaran terlalu telak untuk dihitung. Laskar Kredit julukan BRI Kendari FC terlalu perkasa dan tampil beringas. Pengamat sepak bola yang semula memprediksi pertandingan akan menyajikan drama sepak bola, adu taktik dan skill, malah jadi drama napas, atau lebih tepatnya, drama lidah.
Malam itu, di Aleena Mini Soccer, Dispar Sultra FC seakan bermain bukan hanya melawan BRI Kendari FC, tetapi melawan hukum fisika, takdir, dan mungkin juga cuaca. Laga yang bertajuk “Wonderful Match” berubah jadi horor karena satu peratu roh para pemain pelan-pelan keluar meninggalkan badan.
Namun, ada satu pemain yang bisa dibilang memiliki peran hampir sentral; Pace Romi, saya menjulukinya sebagai Kanit Raskin. Dengan postur tubuh parlente yang mirip Zainuddin Zidan. Sebagai gelandangAN (midfielder), Pace adalah satu-satunya pemain yang hanya memiliki satu kekurangan, yaitu nda ada kelebihannya. Ajaibnya meskipun tidak diperhitungkan, Pace bisa menjebloskan dua gol. Gol dua mata wayangnya ke gawang BRI Kendari FC seketika mengundang decak kagum publik Aleena.
Rating Pace sebagai pemain 120 detik hosa pada match semalam cukup meng-anehkan. Dengan gaya bermain kontemporer dan membahayakan kiper sendiri, ia kerap meliuk-liuk di kotak penalti sendiri. Tapi saya salut, walaupun usia sudah senior, tapi kebugarannya sangat luar biasa, saking primanya, setiap kali menghela napas, asap rokok akan terhembus. Sangat amazing. Kita mengenal istilah “turun minum”, maka baginya diganti dengan “turun moroko”.
Laga hampir sengit ini juga turut mengungkap satu fakta teknis yang menarik. Bayangkan, setelah tensi permainan makin memanas pemain Dispar Sultra FC sudah menggunakan teknik bernapas yang bikin malaikat pencabut nyawa geleng-geleng kepala. Bernapas dengan lidah. Kita tidak lagi mengandalkan paru-paru, tapi lidah! Seolah kita telah mengingkari teori biologi yang dipelajari waktu SD.
Entah sejak kapan lidah menjadi alat respirasi utama, dan menggantikan tupoksi paru-paru untuk menghirup oksigen, tapi yang jelas, di pertandingan itu, kita tidak hanya menyaksikan sepak bola, tapi juga eksperimen medis di lapangan. Mungkin ini penemuan baru, bernapas dengan lidah menuntut skill olah teknik respirasi tersendiri.
Bagaimanapun juga, pertandingan semalam tetap menghibur. Walaupun Dispar Sultra FC kalah telak, tapi gaya bermain mereka yang seolah tanpa arah dan tanpa napas tetap membuat tertawa. Apalagi, saat berlari dan duel, seakan mengikuti ritme napas yang sudah tidak lagi mengikuti hukum alam.
Jadi, saya ingin bilang kadang sepak bola bukan hanya soal menang atau kalah? Kadang, kemenangan terbesar adalah ketika kita masih bisa bernapas setelah bermain, meskipun sudah pakai cara ekstrim, dengan lidah. Dan bisa jadi, mungkin di pertandingan berikutnya di akhir pekan nanti, kita bisa melihat lebih banyak “penemuan baru” dalam teknik pernapasan. Siapa tahu mereka akan bernapas dengan daun telinga, berfotosintesis? dan menjadi tren baru dalam dunia olahraga. (agr)
