Dispar Sultra Mengamuk Lagi

Orang mengenal dunia pariwisata lewat lanskap yang memanjakan mata. Namun Dispar Sultra FC membalik seluruh definisi itu menjadi permainan keras, cepat, dan mematikan di depan gawang lawan. Manakalah publik mengenal pariwisata sebagai wajah keindahan, tim berjuluk the sunrise justru hadir sebagai ironi, bukan mempertontonkan estetika, melainkan sepak bola yang dingin, brutal, dan mematikan.

Tim yang tidak diasuh siapa-siapa ini tidak melulu mempromosikan destinasi wisata, terkadang mereka memasarkan penderitaan kepada lawannya. Tidak banyak gaya, minim romantika, tetapi sangat efektif mencetak gol.

Dalam konteks pariwisata, skuad Dispar yang dihuni insan-insan pariwisata menghadirkan ironi tersendiri. Pariwisata identik dengan keindahan sebagai anugerah Tuhan, namun lini serang Dispar justru jauh dari kata indah malah dipenuhi para striker serba tida bisa. Ini unik, sebab walau begitu adanya, mereka selalu membawa kemenangan, mungkin inilah makna anugerah Tuhan.

Ada dua hal yang membuat langit Aleena Mini Soccer, Senin sore (25/6/2026), terasa berbeda. Pertama, hujan gol yang nyaris membuat papan skor korslet. Kedua, kenyataan pahit bahwa tim dengan kontrol bola indah belum tentu selamat dari badai serangan yang datang secara “kurangajar”.

Kick off pukul 17.00 WITA itu awalnya terlihat seperti laga persahabatan biasa. Namun siapa sangka, duel antara Dispar Sultra FC kontra Dikbud Sultra FC berubah menjadi pertunjukan sepak bola absurd, dramatis, penuh komedi, tetapi tetap menyimpan aroma taktik yang serius.

Dispar Sultra FC menang telak 11-4.

Namun kemenangan ini tidak lahir begitu saja. Dikbud Sultra FC sebenarnya datang dengan materi pemain yang matang. Teknik dasar mereka rapi, kontrol bola hidup, umpan pendek mengalir, bahkan beberapa aksi individunya berhasil membuai skuad the sunrise. Mereka bermain seperti tim yang belajar sepak bola dari akademi Lamasia—tenang, elegan, dan penuh gaya.

Sayangnya, Dispar datang membawa sesuatu yang lebih mengerikan; efektivitas.

Sejak menit awal, Dispar bermain dengan pola menyerang cepat. Build-up mereka sederhana tetapi menusuk. Tidak banyak sentuhan manja di tengah lapangan. Bola direbut, langsung dikirim ke depan. Pressing mereka juga agresif, membuat pemain Dikbud kesulitan membangun serangan nyaman dari belakang.

Pace Romi melakukan gerakan gasing yang bikin orang taputar.

Di tengah kekacauan tempo tinggi itu, muncul satu sosok yang paling mencuri perhatian, Pace Romi.

Pemain bernomor punggung 100 itu seperti kehilangan rem kaki.

Pemain Bodrex yang selalu bikin teman setimnya sakit kepala ini tampil konsisten dengan gaya berputar di lini tengah layaknya gasing. Sebuah performa memukau ibarat pisau bermata dua, bisa menipu lawan atau kawan sendiri. Lantaran gerakannya sulit ditebak, aksi tersebut berhasil membuat rekan setimnya mengidap anxiety disorder. Gangguan kecemasan berlebihan.

Kadang menghadap gawang sendiri, dua detik kemudian sudah muncul di depan kotak penalti lawan. Publik pun mulai menuduhnya sebagai “Zidan”.

Dan memang begitulah karakter Pace Romi sore itu. Bukan karena wajahnya mirip Zidan, tentu saja. Tetapi cara dia menjaga bola, memutar badan, lalu lolos dari pressing lawan benar-benar menjadi pusat permainan Dispar.

Ketika Dikbud mencoba mengontrol ritme dengan penguasaan bola, Dispar justru menyerang lewat transisi cepat yang brutal. Ellisetche membuka keran gol, lalu disusul Ilham yang bermain penuh tenaga. Anggoro ikut mencatat nama di papan skor, sementara Aldi, Komang dan Ivan menambah penderitaan Dikbud dengan penyelesaian akhir yang tidak diduga-duga.

Namun di balik pesta 11 gol itu, ada satu faktor paling menentukan yang mungkin tidak langsung terlihat di statistik; Mangming kiper Dispar yang didatangkan dari Jati Bali United pada bursa transfer musim kemarau bulan Januari lalu. Performanya di bawah mistar patut diacungi jempol kaki.

Jika pertandingan ini adalah film perang, maka sang penjaga gawang adalah benteng terakhir yang menolak runtuh.

Berkali-kali pemain Dikbud melepaskan tembakan keras dan terarah. Secara teknik, peluang mereka tidak buruk. Bahkan beberapa skema serangan dibangun sangat cantik. Tetapi setiap kali bola menuju gawang, Mangming selalu muncul seperti jagoan India yang menolak mati biar sudah ditemba.

Tepisannya menjadi titik balik psikologis pertandingan.

Semakin banyak peluang Dikbud digagalkan, semakin frustrasi mereka bermain. Sementara Dispar justru semakin percaya diri menyerang. Momentum itu yang kemudian membuat skor membengkak tanpa ampun.

Yang menarik, laga ini juga dipenuhi momen “Kikis” — sebuah terminologi lokal untuk peluang yang nyaris menjadi gol tetapi gagal karena alasan yang kadang tidak masuk akal. Ada bola yang tinggal disentuh malah melambung. Ada tembakan keras yang justru mengenai teman sendiri. Bahkan ada peluang yang membuat pemain dan penonton sama-sama tertawa sambil memegang kepala.

Namun justru di situlah romantika sepak bola mini soccer hidup.

Laga ini tidak sekadar soal menang dan kalah. Ini tentang energi, tawa, teriakan, ejekan antar teman, dan semangat bermain yang terasa mentah tetapi jujur.

Secara taktik, Dispar memang layak menang. Mereka unggul dalam organisasi transisi bertahan ke menyerang. Saat kehilangan bola, pemain-pemain mereka cepat turun menutup ruang. Ketika merebut bola, mereka langsung vertikal menyerang. Nda indah ji, cuma mematikan saja. As simple as that.

Sebaliknya, Dikbud terlalu lama menikmati bola di kaki sendiri. Skill individu mereka sebenarnya memanjakan mata, tetapi sepak bola kadang tidak memberi poin untuk gaya. Ketika lini belakang kehilangan koordinasi dan pressing terlambat dilakukan, Dispar menghukum mereka berkali-kali.

Meski kalah empat gol balasan tetap menunjukkan kualitas Dikbud tidak bisa diremehkan. Mereka tetap bermain menyerang hingga akhir, bahkan saat skor sudah terasa seperti main bola pingpong.

Saat lampu lapangan diredupkan, langit Aleena mulai gelap. Pemain Dispar berteriak merayakan kemenangan besar itu seperti skuad the Gunners yang sedang bahagia menjadi juara Liga Primer. Sementara di sudut lapangan, beberapa pemain masih tertawa membahas peluang “kikis” yang gagal menjadi gol.

Dan di tengah semua hiruk-pikuk itu, satu nama terus diungkit;

Pace Romi.

Sang “Zidan” pemain Bodrex.

Pria yang malam itu beraksi dengan jurus berputar seribu bayangan, sukses mengacak-acak ritme permainan lawan dan temannya sendiri, namun ikut mengantar Dispar Sultra FC menuju kemenangan paling liar sore itu.

Vamos dan Hala Dispar.(*)

4 thoughts on “Dispar Sultra Mengamuk Lagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *