Arsenal Bungkam Tim dari Liga “Orang Tua”

Iya, saya tidak usah sebut nama timnya, nanti fansnya bisa marah, yang jelas dari liga orang tua. Baru 10 menit bermain, Gabriel Jesus berhasil menyarangkan bola usai mencelupkan kaki pendenya ke bola hasil tendangan sembarangnya Jurien.

Arsenal itu tim yang jujur. Terlalu jujur, bahkan. The Gunners tidak repot pura-pura bermain rumit. Kalo bisa mencetak gol lewat cara sederhana, why not?. Sepak pojok, misalnya. Corner bagi Arsenal bukan sekadar restart permainan, tapi senjata Brem. Mematikan.

Tidak saja di Premiere League, Arsenal kembali meredefinisi esensi bola mati di level Eropa, di Stadio Giuseppe Meazza (San Siro). Lagi-lagi Jesus, ia menyundul bola dan gol. Hasil dari eksekusi bola penjuru. Menit 31, ia mengulanginya lagi. Adegan yang sama. Akanji yang tingginya 1,8 meter itu kembali terlihat seperti orang bodo yang lupa ingatan. Tinggi badan, malam itu, hanya berguna untuk menjangkau rak paling atas di dapur San Siro.

Inter sebetulnya tidak bermain buruk. Mereka mencoba build up, mencoba rapi, mencoba sabar. Tapi Arsenal melakukan pressing dengan cara yang menyebalkan. Nda heboh, semi agresif, namun cukup membuat pemain Inter frustasi. Dalam sepak bola level ini, setengah depresi walau satu detik saja, itu mahal. Bisa berubah jadi salah kontrol, salah umpan, atau salah ambil keputusan. Ujung-ujungnya bikin pelatih cepat penuaan dini.

Eze yang akhir-akhir ini kurang mendapat menit bermain akhirnya dipercaya Arteta. Di babak kedua, tembakan pertama Eze di menit 50 membuat saya standing by untuk teriak histeris. Tapi sayangnya power tendangannya masih terlalu sopan. Terlalu lembut untuk level Batistuta.

Duel Mosquera melawan Pio Esposito justru lebih menarik. Ini duel klasik. Otot melawan otot, niat melawan niat. Inter jelas sadar bahwa mereka punya keunggulan fisik lewat Thuram dan Pio Esposito. Dua penyerang besar ini diposisikan sebagai poros. Kalau tidak bisa menang lewat kecerdikan, menanglah lewat badan.

Arsenal paham betul marabahaya bernama Pio Esposito ini. Sampai-sampai Arteta harus menurunkan Gabriel untuk menjinakkan Esposito. Saya yakin kalo Esposito ini dibiarkan, Arsenal tinggal tunggu dikubur di halaman belakang San Siro.

Sedangkan. Merino mendapat kartu kuning karena kait yang sebenarnya tidak perlu. Tapi ini sepak bola. Dalam kecepatan tinggi, kadang kaki bergerak lebih cepat dari niat. Bukan pelanggaran jahat. Lebih ke nda sengaja sebenarnya. Kejadian ini sering terjadi memang dalam bermain.

Lalu soal Saka dan Gyökeres. Di atas kertas, ini duet yang harusnya mematikan. Di lapangan, ternyata tidak selalu begitu. Saka terlihat ingin menjadi pusat gravitasi. Ego keluar terlalu dini. Gyökeres justru sebaliknya. Menit 84, ia memberi umpan terobosan ke Saka. Gagal. Bola liar. Gyökeres sendiri yang menyambarnya dan mencetak gol. Ia tidak egois, lalu tetap mencetak gol. Sepak bola memang kadang suka bercanda, yang tidak memaksakan diri justru mendapat hasil.

Statistik mencatat pertandingan ini relatif seimbang. Penguasaan bola hampir berimbang, tembakan tidak timpang, pelanggaran pun biasa saja. Tapi sepak bola tidak dimenangkan oleh angka-angka itu. Ia dimenangkan oleh detail kecil, sundulan dari sepak pojok, penjagaan satu lawan satu, dan keputusan kapan harus menahan ego.

Arsenal pulang membawa kemenangan. Inter pulang membawa pelajaran. Dan para football lunatic pulang membawa kesimpulan lama yang terus terbukti, dalam sepak bola, yang paling berbahaya bukan taktik rumit, melainkan kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang sampai lawan menyerah secara mental.

Baiklah. Sudah dulu.

Sampai pekan depan. Di kolom yang sama, saat Arsenal menghujamkan peluru tajam ke dada Setan Merah.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *