Di dalam birokrasi yang kerap kaku dan berlapis jarak, Pak Belli memilih menjadi air. Ia mengalir tanpa suara, menyentuh banyak sisi, dan pergi tanpa merusak bentuk apa pun, namun justru karena itulah kepergiannya terasa dalam.
Jika tulisan ini mau disebut sebagai wintologi. Maka biarlah saya me-winto dengan penuh martabat.
Bahwa..
Ada pemimpin yang datang dengan jarak, ada pula yang hadir dengan kesederhanaan. Dalam satu tahun lebih saya berinteraksi dengan Pak Belli sebagai Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, saya belajar bahwa wibawa tidak selalu lahir dari suara yang ditinggikan atau gestur yang diperkeras. Kadang, wibawa justru tumbuh dari cara seseorang mendengarkan, menertawakan diri sendiri, dan berjalan bersama timnya, tanpa sekat, tanpa panggung berlebih.
Nama Belli Harli Tombili kerap disebut dalam lintasan jabatan yang tidak ringan. Ia pernah menjadi Penjabat Sekretaris Daerah Kolaka Timur, lalu Pelaksana Harian Bupati Kolaka Timur selama dua bulan. Dua posisi yang bagi birokrat mana pun bukan sekadar amanah, melainkan palagan tempur mendaki karier. Di Kolaka Timur, ia berhadapan langsung dengan persoalan klasik sekaligus pelik, keterbatasan dan kerumitan anggaran daerah. Kompleksitas problematika yang tidak mengenal ampun pada usia, tetapi menuntut kedewasaan dalam mengambil keputusan.
Menariknya, semua itu dijalani Belli di usia yang relatif muda dalam ukuran birokrasi. Usia yang biasanya masih dipenuhi ambisi personal, tetapi pada dirinya justru tampak ketenangan. Seolah ia paham benar bahwa jabatan hanyalah persinggahan, bukan tujuan akhir.
Jabatan bukanlah sesuatu yang ia kejar dengan lobi atau siasat. Pada 31 Desember 2021, ketika dilantik sebagai Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, posisi itu bukan hasil dari jalan yang dirancang secara sengaja. Bahkan, sembilan bulan sebelumnya, keinginan itu hanya terbersit lirih di dalam hati. Ia ingin mengabdi di Dinas Pariwisata Sultra. Tak pernah diucapkan, tak pernah diumumkan. Namun niat, seperti yang sering kita dengar dalam kisah-kisah lama, punya caranya sendiri untuk menemukan jalan.
“Setiap ASN harus siap ditempatkan di mana saja,” begitu prinsip yang ia pegang. Jabatan bukan pilihan personal, melainkan situasi yang kadang datang tanpa kompromi. Kita tidak selalu diberi ruang untuk memilih, yang bisa kita lakukan hanyalah menyesuaikan diri dan bekerja sebaik mungkin.
Kini, setelah berbagai lintasan itu, Belli menjabat sebagai staf ahli. Bahkan disebut-sebut sebagai staf ahli termuda. Dalam candaan getir dunia birokrasi, jabatan staf ahli sering dilekatkan stigma sebagai “jabatan parkir”. Namun ia melihatnya berbeda. Barangkali justru di titik inilah ketulusan seseorang ditakar. Apakah ia tetap bekerja dengan semangat yang sama ketika sorotan mulai redup.
Dari semua tempat ia singgahi sebagai ASN, Belli pernah berkata jauh di kedalaman sanubari bahwa Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara adalah tempat terbaik baginya. Bukan karena gedungnya, bukan pula karena fasilitasnya, melainkan karena orang-orang di dalamnya. “Orang-orangnya keren, enak diajak kerja sama,” katanya. Hampir empat tahun, nyaris tanpa konflik berarti. Semua menjalankan tugas dengan kesadaran dan rasa saling percaya.
Di bawah kepemimpinannya, Dinas Pariwisata Sultra mencatat banyak capaian. Desa wisata Sulawesi Tenggara mulai diperhitungkan di level nasional. Tiga kali penari Sultra tampil di Istana Negara pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Momen itu menjadi panggung simbolik yang tidak hanya soal tari, tetapi tentang pengakuan identitas budaya. Prestasi demi prestasi mengalir, bukan sebagai kebetulan, melainkan hasil dari kerja kolektif yang dirawat dengan baik.
Namun, yang paling terasa justru bukan daftar prestasinya, melainkan suasana kerja yang ia bangun. Ia adalah pemimpin yang humble. Dalam banyak kesempatan, saya tidak merasa sedang berhadapan dengan atasan dalam struktur hierarki yang kaku. Rasanya lebih seperti bekerja dengan seorang kawan yang kebetulan memikul tanggung jawab lebih besar. Tanpa perlu “memasang wibawa”, ia sudah dihargai. Rasa hormat itu tumbuh organik.
Berbeda dengan sebagian pemimpin yang merasa perlu menegaskan kekuasaan melalui jarak, nada perintah, atau sikap serba menggurui, Pak Belli justru hadir tanpa kebutuhan untuk terlihat dominan. Ia tidak membangun kepemimpinan dari ketakutan atau formalitas yang berlebihan, melainkan dari kepercayaan. Di ruang kerja yang ia pimpin, gagasan tidak dicekik oleh rasa sungkan, dan inisiatif tidak layu oleh kecemasan. Ia tidak sok bossy, tidak pula menjadikan jabatan sebagai menara untuk memandang ke bawah. Kepemimpinannya berjalan senyap, tetapi terasa, ringan, namun mengikat.
Ketika saatnya tiba untuk bergeser, ia melakukannya dengan satu niat, agar kekompakan tim tetap terjaga. Dan justru di titik itulah ia mengaku paling berat, bukan pada jabatan yang tiba-tiba harus ditinggalkan, melainkan pada kata perpisahan. Ia bukan tipe orang yang menyukai seremoni perpisahan. Kata-kata pamit membuatnya galau.
Ia bercerita, saat mencari kekuatan untuk mengucapkan salam perpisahan pagi tadi, pandangannya jatuh pada air Zamzam di rumah. Ia minum, seraya melangitkan doa, meminta agar Tuhan mencabut kesedihan dari hatinya. Setelah hari yang melelahkan itu berlalu, ia sampai pada satu pemahaman sederhana, jika ada sedih yang singgah, itu karena orang-orang yang ditinggalkan memang berarti.
Dalam pesannya kepada kami, ia mengingatkan sesuatu yang jarang diucapkan pemimpin. Bahwa biasanya staflah yang menyesuaikan diri dengan pemimpin, bukan sebaliknya. Setiap pemimpin punya karakter berbeda, maka menyesuaikan diri adalah keniscayaan. Ia meminta kami tetap melihat langit biru, bukan langit mendung. Dengan pemimpin baru, berdoalah baik-baik, berharap baik-baik, dan bukakan jalan agar semua bisa melakukan yang terbaik.
Belli menutup dengan sebuah metafora yang melekat kuat dalam ingatan saya. Kita semua, katanya, pasti akan bertemu pada persimpangan jalan. Seperti sungai. Ia tidak ingin menjadi batu yang hanya dialiri air. Ia ingin menjadi air itu sendiri, mengalir, berjalan ke mana saja, menyesuaikan bentuk tanpa kehilangan hakikat.
Walaupun pergi dengan hati yang penuh, celah di hatinya menyisakan sesuatu. Wasuemba. Tempat ia memulai program pertamanya di Dinas Pariwisata Sultra, masih ia sebut sebagai “utang”. Desa itu belum pernah menang di ajang nasional. Sebuah mimpi yang belum selesai. Dan barangkali, seperti air yang terus mengalir, mimpi itu akan menemukan jalannya sendiri, entah melalui Belli, atau melalui kami yang pernah berjalan bersamanya.
Selamat bertugas di tempat baru Bosku.
Satu lagi, Sumpah kesian Bos, saya itu tidak takut naik pesawat, jadi jangan ragu ajak saya Perjadin. ckckc. (agr)

Mantap
kerennnn kaliiii
Best Boss… yang mau mendengarkan dan memberikan masukan ke siapapun itu…. 🫶🏻🫡🙏🏻
Best Friend..
akan slalu menjadi kebanggaan.. 🫶🏻
keren sekali ,,,, Air mampu membawa kita mengikut arus tanpa harus terbawa Arus … 👍👍👍
semangatt let…sukses dimana saja yaa
MasyaAllah, tetap sesat tetap semangat pak. InsyaAllah ini cuman parkir bukan stop.
MasyaAllah, tetap sesat tetap semangat pak. InsyaAllah ini cuman parkir bukan stop.
MasyaAllah, tetap sehat tetap semangat pak. InsyaAllah ini cuman parkir bukan stop.