Sambungan dari cerita terakhir adalah datangnya laporan dari “CIA-nya” Bhayangkara, yang membawa kabar siapa di antara tiga pasukan tempur Majapahit (Jalapati, Jala Rananggana, & Jalayuda) berkhianat pada Kalagemet.
Kalagemet adalah nama kecil dari Baginda Sri Jayanegara. Biasa, semua orang punya nama kecil atau nama kesayangan. Seperti saya, dikampung disebut La Dhiangga, kakak saya disebut Gongge. Sepupu saya bernama La Ode Jayadin dipanggil Kalagonda, etc.
Semua info tentang Majapahit saya peroleh lewat karya Langit Kresna Hariadi. Saya tidak serasa membaca cerita tetapi lebih seperti belajar sejarah. Ia men-sintesiskan antara fakta sejarah dengan fiksi. Meskipun sebagian lahir dari ranah imajinasi, tidak serta merta sebuah peradaban sekelas Majapahit dapat dikecilkan karena menyandang label imajinasi. Eksplorasi sejarah yang ingin dibahasakan oleh Langit adalah kontribusi pasukan elit Bhayangkara yang menopang kesuksesan sebuah negara yang beribukota Trowulan. Ia ingin membongkar pesona dan gejolak satu peristiwa di balik nama besar Majapahit dan Gajahmada.
Kalau belum bosan atau sedang merasa tak berguna, silahkan simak…
Maka datanglah telik sandi itu melapor ke Om Mada. Diterima laporan, dua pasukan; Jalayuda dan Jalapati masih standby di barak. Mabes Jala Rananggana yang dikomandoi Pujut Luntar kosong melompong. Gajahmada bergegas melapor ke Mahapatih Arya Tadah dan ditugaskan segera kasi bangun bosnya Jalapati, yakni Temenggung Banyak Sora.
Dengan jurus seribu bayangan, Gajahmada meng-gas kuda jantannya membelah malam menuju markas Jalapati. Tiba depan gerbang Gajahmada dihentikan petugas jaga. Sempat baku cekcok, tapi petugas mengalah setelah dikasi liat surat tugas berupa lencana Mahapatih.
Banyak Sora marah-marah diganggu bobonya tengah malam. Dibentaklah Gajahmada, awas nda penting eh, sa iris telingamu. Tanpa banyak bacot Gajahmada langsung to the point, besok Majapahit mau diserang, Pujut Luntar dengan Jala Rananggana mbalelo.
Dengar itu, hilang ngantuknya Pujut Luntar, menyala matanya seperti ditiris lombo biji. Selain itu, secara pribadi Banyak Sora memang tidak harmonis dengan bos Jala Rananggana. Biasalah, semacam ada ego sektoral antara sesama jenderal. Lantaran emosi, habis nama binatang diabsen. Gajahmada yang lihat ekspresi wajah Banyak Sora jadi yakin, kalo Jalapati tidak ikut-ikutan. Cemasnya hilang.
“Jadi bagaimana Gusti?“, Gajahmada dengan sopan dan lembut bertanya.
“Apa maksudmu dek, ko pulang sekarang, sentar subuh Jalapati sudah di Istana“,
“Ngeri kamu kandacu, mantap lagi”, Gajahmada langsung stater perut kudanya menuju rumah dinas Panji Watang, komandan Jalayuda.
Tiba depan gerbang, cekcok yang sama terulang lagi. Tapi akhirnya Gajahmada dipersilahkan masuk.
Suasana di Mabes Jalayuda berbeda. Kalau di Jalapati sedang tidur, disini orang-orang sedang night party. Hepi-hepi. Ladies night mungkin. Diantarlah Gajamada menemui Panji Watang yang saat itu lagi nongki bersama para Senopati. Gajahmada meminta bicara empat mata, dua mulut. Dikabulkan.
Seperti biasa, to the point. Dengar kabar yang disampaikan Gajahmada, Panji Watang tidak terlalu kaget. Sambil usap jenggot, Panji Watang cuma bilang, “ohh, jadi Rakrian Kuti berhasil ajak Pujut Luntar rupanya”.
Mendengar itu, Gajahmada terperanjat.
“AAPPPPAAAAA”….sambil zoom in, zoom out.
“Jadi, ko tau pale, baru ko nda bilang-bilang“, Gajahmada mulai emosi.
“Baru Ra Kuti kah dalangnya“,
Gajahmada kecewa. Sebagai panglima seharusnya Panji Watang peka terhadap isu begini. Gajahmada ingin tahu bagaimana sikap Panji Watang, apakah ikut membela negara atau melakukan koalisi besar dengan Ra Kuti dan Pujut Luntar.
Panji Watang memilih menarik diri. Katanya netral. Karena menurutnya ini hanya isu keluarga. Tidak mau ikut campur. Padahal Gajahmada tau sifat Panji Watang. Tidak lebih dari seorang oportunis. Dia sengaja supaya pertempuran terjadi, setelah itu dia dan pasukannya datang menghabisi pihak yang menang, yang pasti keletihan. Siasat cerdas dan licik. Tapi Gajahmada sudah punya firasat itu.
Maka dikasih kata-kata mutiara lah si Panji Watang oleh anak ingusan Gajahmada. Ia berharap siapa tahu bisa sadar. Tapi Panji Watang malah tersinggung, ia hendak menempeleng Gajahmada tapi teringat ada lencana Mahapatih yang dipegang. Kalau berani tempeleng, itu sama saja tempeleng Mahapatih.
Gajahmada kembali dengan pedoko. Malam makin larut dan mendekati pagi. Gajahmada utus lagi “CIA-nya” untuk mengendus dimana posisi para pemberontak dan apa rencana mereka.
Subuh sudah tiba. Tapi Temenggung Banyak Sora dan pasukan Jalapati belum muncul batang hidungnya. Panik Gajahmada. “Matimi kita, nda ada yang bantu”, cemas bergelayut di hati Gajahmada. Pasukan Bhayangkara lain ikut kasi tambah panik kakang Gajahmada. Gajahmada hanya diam, pasrah, tapi dalam hati sangat berharap pasukan Jalapati tiba. Tiap kokok ayam, selalu bikin Gajahmada degdegan. Terpaksa kita harus lari ini, selamatkan raja saja, tidak usah selamatkan kerajaan dan istana. Itu solusi yang ada di dalam benak Gajahmada.
Waktu berjalan melata, lambat tapi pasti. Di injury time Gajahmada sudah siap mengungsikan Kalagemet. Namun, akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba. Umbul-umbul pasukan Jalapati mulai terlihat dari kejauhan. Bhayangkara mulai bisa bernapas. Gajahmada sangat berterimakasih atas kedatangan Banyak Sora dan pasukannya.
Gajahmada dan Banyak Sora atur strategi. Pasukan Jalapati akan berada di baris terdepan menghalau serbuan di depan gerbang istana. Pasukan Bhayangkara akan melindungi dalam istana.
Tak lama, utusan telik sandi datang. Ia mengonfirmasi kebenaran informasi dari Panji Watang. Maka benarlah, Ra Kuti yang memimpin pemberontakan dan Pujut Luntar dibujuk, karena akan mendapat jatah sebagai Mahapatih jika makar berhasil. Dari info intelijen itu sesaat lagi mereka akan serang dari belakang istana.
Gajahmada kaget lagi, seperti habis mendengar harga BBM naik. Jalapati sudah pasang barikade di depan istana. Pake jurus langkah seribu bayangan Gajahmada stater kuda. Dengan kecepatan cahaya komandan Bhayangkara itu meluncur mencari Banyak Sora.
“Kanda, ternyata dorang serbu dari arah belakang, suka main belakang memang dorang“, anggaplah begitu ucapan Gajahmada.
“Astagaaa,,,hobi hantam blakang pale”, ya anggaplah juga begitu tanggapan Banyak Sora.
Waktu kian tipis. Genderang perang telah tertabuh. Dengan buru-buru, Banyak Sora memobilisasi pasukan ke arah belakang istana.
Singkat cerita, dua pasukan itu akhirnya saling tatap muka. Sisi pemberontak di pimpin Rakrian Kuti dan Temenggung Pujut Luntar, sedangkan sisi Jayanegara dipimpin Temenggung Banyak Sora.
Bende Kiai Samudera ditabuh. Seketika mendidih darah tiap pasukan. Masing-masing lapar baku gere. Kalo Leonidas, ini adalah momentum dia harus bilang “take everythin’ from them, coz tonite we dine in HELL“.
Setelah terdengar instruksi serbu, seketika pasukan Jala Rananggana kesetanan. Hentakan kaki ribuan prajurit mengamburkan debu ke udara. Pedang dan tombak berkilau di hantam cahaya matahari yang pelan-pelan merangkak naik. Pasukan Jalapati pun demikian, tidak mau kalah setan.
Dan akhirnya, acara baku potong pun dimulai. Bunyi lengking besi nyaring di bumi Majapahit pagi itu. Seorang prajurit tiba-tiba terpisah dengan kepalanya menerima ayunan pedang dari belakang. Ujung tombak sibuk mencari-cari inti jantung mana yang akan dikoyak. Beberapa tidak menyadari kalau kaki dan tangannya telah hilang, entah tercecer dimana.
Di tengah situasi chaos, dua temenggung, Banyak Sora dan Pujut Luntar akhirnya beradu pandang. Mereka siap mengukur ilmu masing-masing. Bukan hanya isu pemberontakan dan bela negara, adegan tebas dan tangkis dua bos itu adalah untuk mempertahankan gengsi.
Di sisi perang yang lain, saat semua orang sibuk bertempur, tiba-tiba Gajahmada melompat dari balik belukar. Tidak pake baju, Gajahmada berteriak “Ayoo, siapa yang mau bunuh saya”. Katanya, Gajahmada tidak benar-benar bertelanjang dada, ada potongan motif kain batik yang menutupi tubuhnya. Ngeri. Kalo Raja Inggris lihat aksinya Gajahmada pasti maki-maki, “orang gila ini.” Masa pergi baku potong tidak pake baju besi. Malah pake batik. Orang sekarang pake batik hanya kalo mau tabrak daging.
Mengamuklah Gajahmada. Dia libas semua di depannya. Satu persatu pasukan Jala Rananggana gugur di kakinya. Salto, tiarap, tengkurap, salto lagi, kadang-kadang terbang, gerakkannya gesit dan membawa malapetaka bagi musuhnya. Lompatannya melebihi Jordan dan Kobe, sekali lompat, dua, tiga leher putus.
Pasukan yang dibelakang teriak-teriak “maju, maju, jangan mundur”. Mereka tidak tahu di depan, Gajahmada lagi panen kepala. Pucat pasi wajah pemberontak itu berhadapan dengan Gajahmada. Baku suru-suru, kau mi, kau mi. Orang di depan mundur, sedangkan yang jauh di belakang tidak tahu apa-apa terus mendesak maju. Suasana pasukan yang tidak terkoordinir seperti itu membuat Gajahmada enteng dan leluasa saja me-nyumbele.
“Maju kalian semua Kecoak busuk, saya antar kalian mengintip pintu neraka”, gertak Gajahmada. Tambah paniklah mereka. Ada yang tobat, but its too late. Ayunan pedang Gajahmada terlalu cepat daripada ampunannya.
Akhir pertempuran mulai terlihat, Jala Rananggana berguguran, formasi perang mereka sudah kocar kacir. Pasukan kehilangan komando, Pujut Luntar sibuk duel dengan Banyak Sora.
Ra Kuti, pimpinan pemberontak terlihat cemas. Pasukannya telah kalah. Satu-satunya jalan keluar adalah tambahan pasukan dari Jalayudha yang dipimpin Panji Watang. Ia harus berhasil membujuk Panji Watang agar berpihak pada pemberontakannya. Bergegaslah ia menuju kesatriaan Jalayudha.
Ra Kuti akan menawarkan Panji Watang sebagai Mahapatih jika pemberontakan berhasil. Sebelumnya jabatan itu untuk Pujut Luntar, tapi ia tahu Luntar telah kalah. Licik.
Ternyata Panji Watang lebih licik dan pandai. Dia tahu Ra Kuti terdesak, tidak punya bargaining position yang kuat. Dia menolak tawaran Mahapatih dan ingin menjadi Raja. Dengan terpaksa dan berat hati sekali Ra Kuti terima.
Maka berangkatlah Panji Watang bersama ribuan Jalayudha ke palagan tempur. Dari kejauhan seorang prajurit berlari melaporkan situasi kepada Gajahmada yang sedang sibuk memotong orang.
Gajahmada berhenti, mencari kuda, lalu menuju perkelahian Banyak Sora dan Pujut Luntar. Gajahmada memerintahkan pasukan mengepung Pujut Luntar.
Banyak Sora marah, tidak ingin pertarungannya di interupsi seperti RDP-nya Mahfud MD. “Maaf Temenggung, tapi pasukan Jalayudha sedang menuju kemari, mereka bermaksud melibas kita semua, Panji Watang telah merencanakan ini, karena dia juga berambisi menjadi raja”, kata Gajahmada.
“Nene Moyang e,,, manusia laknat”, umpat Banyak. Darahnya berdesir. Yang lebih sakit hati adalah Temenggung Pujut Luntar karena merasa diperalat dan dikhianati Ra Kuti. Ia hanya diam lesu setelah Gajahmada memerinta beberapa pasukan mengantarnya ke kerangkeng.
Gajahmada dan Banyak Sora mencoba mengambil alih komando dari pasukan Jala Rananggana yang ditinggalkan Banyak Sora. Alhamdulillah, pasukan itu mau bergabung dan bersatu menghadapi gelombang serangan dari prajurit Jalayudha.
Tetap saja Gajahmada diselimuti cemas. Meskipun semangat tempur pasukan yang tersisa sangat kuat, ia tidak bisa mengabaikan kondisi fisik prajurit yang telah kelelahan.
Maka tibalah malapetaka yang siap ditabur pasukan Jalayudha. Gabungan Jalapati dan Jala Rananggana yang letih juga siap menghalau. Burung-burung pemakan bangkai juga beterbangan di langit. Mereka peka dengan bau amis darah di Majapahit pagi itu.
Di tengah dua pasukan yang siap baku tikam itu, sang Mahapatih Arya Tadah muncul. Ia mengutus orang untuk memanggil Panji Watang dan Banyak Sora. Kedua Temenggung itu sangat menghargai ketokohan Arya Tadah. Maka dipenuhilah panggilan itu.
Sebagai mahapatih, Arya Tadah adalah sosok yang sangat Mario Teguh banget. Ia katakan pada Panji Watang, “ada berapa banyak janda dan anak yatim yang ingin kau ciptakan lewat perang ini, mau seberapa keras tangis seorang ibu yang ingin kau dengar. Kau akan merampas pelukan seorang ayah dari anaknya. Jikalah kau ingin kedudukanku, maka aku siap memberikannya kepadamu, akan aku sampaikan kepada Baginda Jayanegara untuk melupakan tindakanmu ini”.
Masih banyak lagi kata-kata mutiara Arya Tadah. Dan itu sudah cukup menyadarkan Panji Watang. Seketika Gajahmada yang menyaksikan itu merasa syukur. Pertempuran bisa dicegah karena Panji Watang telah menyadari kekeliruannya.
Tapi selalu saja ada yang suka memancing di air keruh. Ra Kuti melihat seperti ada ciri-ciri damai. Ra Kuti tidak mau pertempuran ini berhenti. Ia tugaskan Ra Tanca membuat racun untuk dilumuri ke anak panah. Dari posisinya berdiri, ia tarik busur mengarah pada Arya Tadah. Anak panah itu meluncur deras menuju dada Arya Tadah. Gajahmada mendengar ada desing anak panah, dengan gercep ia halau panah itu dengan pedangnya. Tadah masih selamat. Anak panah kedua meluncur lagi, kini ia mengincar Panji Watang yang berdiri tegak lurus dengan Banyak Sora. Nahas bagi Panji Watang, anak panah beracun itu menyambar lenganya dan tepat terbenam di dada Banyak Sora. Racun yang dibuat Ra Tanca sangat kuat. Meski terkena kulit, risikonya adalah maut. Seketika, dua komandan itu berdebam jatuh ke tanah. Badannya menggelepar dan mulutnya berbusa.
Senopati Jalayudha yang menyaksikan dari kejauhan terkejut dan bertanya-bertanya melihat bosnya terbaring di tanah. Ia geram. Mengutuk sang pembunuh. Ra Kuti yang melihat kondisi pasukan Jalayudha telah terpengaruh, segera menginstruksikan serbu. Pasukan Jalayudha sudah tidak mengikuti garis komando lagi. Pimpinannya telah tewas. Dalam hati sebagian Senopati heran, siapa yang memberi perintah.
Namun massa yang marah dan tak terkendali sangat banyak. Berhamburanlah pasukan Jalayudha yang diselimuti amarah atas kematian Panji Watang.
Bersambung ….
