Cerita yang Tertinggal di Pasir Bokori

Suatu hari di Bokori

Pagi itu, langit seperti kanvas biru yang belum sempat tersentuh kuas. Angin laut membawa aroma asin. Beberapa langkah kaki terlihat tergesa menyusuri titian dermaga. Dan seketika, deru mesin perahu kecil meraung dalam gemericik biru yang dalam.

Ada yang tersenyum sambil menenteng barang-barang, ada yang membawa sapu, perlengkapan makan, parang, bahkan ada yang cuma membawa semangat dan berharap tidak disuruh kerja berat, dan ada yang menatap Bokori dengan mata yang seolah sudah menulis rencana dalam diam. Pagi kali ini sungguh tidak sekadar mengantar mereka bekerja, tapi mengantar mereka menepati janji pada sebuah pulau.

Janji untuk membersihkan, merapikan, dan mengembalikan wajah pulau ke bentuknya yang paling memesona, Gerakan Wisata Bersih (GWB).

Bokori kerap bersanding dengan ikon wisata bahari Sulawesi Tenggara. Tapi bagi mereka yang pagi itu rela berjibaku dengan laut, ia lebih dari ikon. Ia adalah halaman depan rumah. Dan setiap tamu, sebelum menyeruput kopi atau bercerita, pasti akan menilai halaman itu.

Saya kembali mengenang petuah Henry Manampiring yang terinspirasi dari filsafat stoisisme bahwa manusia sebaiknya hanya memusatkan perhatian pada hal-hal yang berada dalam kendalinya.

“Kita tidak mengendalikan apa yang terjadi, kita hanya mengendalikan bagaimana kita merespons,” tulis Epictetus dua ribu tahun lalu.

Maka, mereka tidak membuang waktu mengatur arah angin atau meredam ombak. Fokus mereka ada pada yang dapat tersentuh kedua tangan, menyapu dedaun, memotong rumput, memungut sampah, memangkas dahan. Ombak mungkin membawa sampah kembali, angin bisa menjatuhkan daun lagi, wisatawan mungkin enggan mampir, tapi itu urusan nanti. Hari itu, mereka telah menunaikan bagian yang sepenuhnya berada dalam kendali mereka, menjaga wajah pulau tetap ramah bagi siapa pun yang datang.

Tatkala kaki telah menapaki pulau, simfoni kerja pun bermula. Sapu lidi menyapu setapak. Mesin pemotong memutus rumput. Parang memangkas dahan yang menggantung rendah. Atap villa yang tertutup ranting dan daun pinus menjadi sasaran pembersihan, memberi jalan bagi cahaya dan angin laut.

Saya salut, kepada pimpinan dan rekan-rekan, meskipun matahari sudah memasang mode full power, tetapi semangat mereka tidak kalah panas. Utamanya Pace Romi, lelaki paruh baya yang mengaku pemilik bumi itu secara terpaksa ikut turun basah-basah ke air bukan dengan niat membantu, tetapi mencari sandalnya yang terjebak lumpur. Terlanjur. Air sampai di pinggang, emosi sudah di ubun-ubun. Jadilah ia bergumul dengan sampah plastik.

Di tepi jembatan batu, mesin pemotong rumput meraung seperti sedang memberi peringatan pada rumput liar. Karung plastik hitam besar berjejer, penuh dengan botol, kaleng, dan dedaunan. Sarung tangan tebal menampung sisa panas matahari, sementara sapu lidi menyisakan jejak pada pasir, rapuh seperti niat baik yang tak sempat diucapkan.

Bahkan populasi kucing liar pun masuk dalam agenda. Nyawa-nyawa kecil berbulu itu tak luput dari perhatian. Terdapat kantong-kantong evakuasi, bukan untuk mengusir, tapi memindahkan mereka ke tempat yang lebih ramah. Sebab, menjaga pulau berarti juga merawat setiap napas yang hidup di atasnya.

Nun jauh, di sudut dermaga yang dihuni kursi merah, waktu berjalan melata. Seorang memanggul karung, wajahnya tersengat matahari, tapi matanya memantulkan cahaya harapan. Ia menghela napas panjang, seolah mencoba menangkap suara pulau yang tak pernah benar-benar diam. Bokori, dalam diamnya, bagai membisik. Lewat desir angin, lewat riak air yang memecah pada tiang rapuh dermaga, lewat daun-daun kering yang gugur seolah tahu waktunya.

Ada sesuatu yang nyaris religius dari cara mereka bekerja. Bukan karena ada “SPPD” yang menanti, atau tepuk tangan yang dijanjikan. Tapi karena mereka paham, cinta pada tempat tidak selalu terucap, ia seringkali hanya butuh bukti. Melalui peluh. Dengan langkah kaki yang tidak ragu. Melalui tangan yang tak pilih kotor.

Di atas pasir yang panasnya membakar ingatan, seorang ibu-ibu dari desa seberang tertawa keras sambil menyapu daun-daun. Tawanya jujur, seperti matahari yang tak bisa berbohong. Ia bilang, “Pulau ini tidak punya lidah, tapi ia bisa menangis kalau kita cuek.”

Dan betul. Pulau tidak punya kata, tapi ia menyampaikan luka lewat pantai yang berlubang, lewat pohon yang mengering, atau lewat kucing yang matanya mulai sayu karena lapar. Pulau tidak bisa protes, tapi ia menampung semua. Seperti seorang ibu tua yang hanya tersenyum ketika anak-anaknya lupa pulang.

Menjelang siang, awan mulai berdatangan, mungkin ingin berteduh sejenak di pundak langit. Bayangan para relawan Gerakan terpantul samar, panjang dan kadang goyah, seperti janji-janji lama manusia pada alam, tapi belum sepenuhnya sempat tertuntaskan. Namun hari ini, janji itu setidaknya telah disentuh.

Seseorang dari tim membawa termos besar dan menawarkan sirup dingin, rasanya seperti puisi di tengah padang pasir. Beberapa duduk bersila di bawah pohon, menyeka keringat, menertawakan betapa mudahnya sandal hanyut, betapa susahnya menahan lelah yang datang bertubi seperti ombak.

Di tengah semua kelelahan itu, sesekali tawa meledak. Karena di titik tertentu, kendati tubuh capek, namun hati sedang piknik. Dan mungkin itulah berkah dari kerja Bersama. Meski pekerjaan tak selalu selesai, tapi cerita selalu penuh, dan perasaan selalu pulang dalam keadaan utuh.

Namun tak satu pun mengeluh.

Karena mungkin begitulah makna integritas sesungguhnya. Ia tak selalu manis dan santai. Ia seringkali menyamar sebagai pekerjaan kasar yang bergerak dalam diam. Ia hadir lewat tangan yang memungut sampah, lewat kaki yang terus melangkah meski tahu tak ada sorotan kamera. Mereka sadar, pulau ini tidak butuh pahlawan. Ia hanya butuh teman yang setia.

Dan pada sore harinya, sebelum langit berubah jingga dan debur ombak mulai pelan, Bokori tampak lebih lega. Ia tidak bersih sempurna. Tapi ia tidak lagi sunyi. Ada tapak yang tertinggal. Ada jejak yang bicara.

Pulau ini mungkin tak bisa berkata terima kasih. Tapi jika suatu hari nanti kita kembali dan ia menyambut dengan angin yang lembut dan pasir yang bersih, anggap saja itu caranya membalas pelukan.

Bagi saya, jika orang menyebut Jogja terbuat dari rindu atau tercipta ketika tuhan sedang tersenyum, maka Bokori saat itu seperti terbuat dari hening, bukan karena ketiadaan suara, melainkan ruang dimana diri paling jujur menemukan dirinya sendiri.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *