Kebenaran Tak Selalu Menang

Poster Drama Korea yang ngeri konae gais.

Menonton beberapa episode Beyond the Bar membuat saya mengenang kalimat Margarito Khamis saat mengikuti salah satu giat bedah buku yang ia hadiri, bahwa pengacara (penegak hukum non-aparat) itu, satu kakinya sudah menginjak neraka. Oleh karena itu harus pandai-pandai mengakali, agar kaki sebelahnya tidak ikut terperosok.

Kalimat dari pakar hukum tata negara itu, seperti gema yang tak lekang oleh waktu, kembali berdentang dalam benak saya saat menyaksikan lika-liku kehidupan para pengacara di drama ini. Dunia hukum, yang sekilas tampak rapi dan berlapis aturan, ternyata hanyalah sebuah panggung tempat manusia bermain peran, menimbang-nimbang antara kebenaran dan kepentingan, antara moral dan kemenangan.

Saya jadi paham, bahwa dalam hukum, tak ada warna putih yang murni, dan hitam pun tak sepenuhnya gelap. Yang ada hanyalah abu-abu, ruang di mana nurani diuji, dan setiap langkah adalah tarian rapuh di atas garis tipis. Dalam ruang sidang, kebenaran bukan selalu pemenang. Ia sering tersingkir oleh narasi yang lebih meyakinkan, oleh permainan psikologi yang halus, oleh kata-kata yang dirangkai seperti jaring laba-laba untuk menjerat lawan.

Lebih dari sekadar hiburan, drakor ini justru memberi saya kuliah hukum. Ia meninggalkan ruang renung yang dalam.

Berlatar dunia hukum dan ruang persidangan, Beyond the Bar seakan menelanjangi dilema moral dan psikologis yang kerap tak kita sadari, baik dalam praktik profesional maupun kehidupan sehari-hari.

Satu yang relate dengan profesionalisme saya adalah bagaimana media digambarkan memiliki kuasa besar membentuk persepsi publik. Ada satu adegan yang menampar logika kita, “Jika media mendapat informasi yang salah, maka kebenaran tidak lagi diperlukan.” Betapa relevan kalimat ini dengan kenyataan sekarang. Di era informasi yang begitu cepat beredar, kebenaran sering kali kalah oleh kecepatan dan sensasionalisme. Apa yang terlihat di headline sering dianggap mutlak benar, meskipun realitasnya jauh berbeda.

Pertanyaannya: apakah kita, sebagai konsumen informasi, masih peduli mencari kebenaran, atau cukup puas dengan narasi yang mendominasi layar gawai kita?…

Di sisi lain, Beyond the Bar menyoroti sisi manusiawi profesi pengacara. Dalam setiap persidangan, bukan hanya hukum yang bermain, tapi juga psikologi. Ada momen ketika argumentasi hukum bukan sekadar soal pasal, tetapi bagaimana membaca emosi, gestur, bahkan rasa takut lawan bicara. Ini mengingatkan kita bahwa dalam dunia profesional, kecerdasan emosional kadang lebih menentukan daripada sekadar pengetahuan teknis.

Namun, yang paling menusuk adalah ketika drama ini menyinggung perbedaan antara standar hukum dan standar moral. Apa yang sah secara hukum, belum tentu benar secara etika. Begitu pula sebaliknya. Ini menimbulkan pertanyaan reflektif: ketika kita berada di persimpangan, manakah yang kita pilih—hukum atau moralitas? Barangkali inilah dilema terbesar yang tidak hanya dihadapi pengacara, tetapi juga setiap individu dalam hidupnya.

Lalu, ada kisah yang menyayat hati tentang seorang ayah kandung yang selalu melakukan kekerasan kepada anaknya. Ungkapan klasik “darah lebih kental daripada air” seakan dipatahkan. Ternyata, kasih sayang tidak selalu datang dari mereka yang sedarah. Kadang, justru orang asing yang mampu memberi pelukan paling hangat. Pesan ini menohok karena sering kali kita terjebak dalam glorifikasi hubungan darah, padahal kenyataannya, cinta dan kebaikan bisa lahir dari siapa saja, bahkan dari mereka yang tak memiliki hubungan biologis dengan kita.

Beyond the Bar memang drama hukum, tetapi nilai yang ditawarkan jauh melampaui ruang sidang. Ia mengajak kita berpikir ulang tentang makna kebenaran, kekuatan psikologi dalam kehidupan profesional, benturan antara hukum dan moral, serta hakikat kasih sayang. Semua ini bukan sekadar bagian dari naskah drama, melainkan potret kehidupan nyata yang mungkin sedang kita alami tanpa kita sadari.

Jadi, ketika komorang menonton Beyond the Bar, jangan sekadar menikmati intrik hukum atau dialog cerdas para pengacara. Perhatikan pesan-pesan kecil yang tersembunyi di baliknya. Jan sampe, justru di sanalah kita menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini kita simpan rapat dalam hati.

Saya baru sampai di episode ke lima. Jika sedang tidak sibuk mencari nafkah, pelan-pelan akan saya tuntaskan drama ini.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *