Kill adalah film India tentang jagoan yang mengandalkan luka batin, bukan latihan fisik. Maksudnya, skill baku pukulnya bisa meningkat hanya kalo kerabatnya mati dibunuh penjahat. Ini berarti nda bagus dijadikan teman.
Entah kenapa saya menulis ini, tapi mungkin ini karena baru pertama film India yang sa nonton memiliki jagoan yang setengah matang, bukan setenga dewa, bukan setenga robot.
Jagonya yang stenga-stenga. Setau saya, para director felem India itu punya kontrak eksklusif dengan alam semesta untuk melanggar hukum fisika kapan saja mereka mau. Biasanya, ritual saya sebelum nonton India adalah persiapan mental. Karena setiap kali jagoan kasi kibas tinjunya, gravitasi bubar, ilmu termodinamika resign dan hukum Newton langsung pensiun.
India sekarang, kalo bikin karakter jagoan, nene moyang jagonya minta ampun. Dulu ada istilahnya “kala-kala dulu“. Sekarang itu tidak dipake. Contohnya karakter Salaar yang diperankan Prabhas. Karakter itu menyempurnakan fantasi orang-orang India yang menginginkan kejagoanan yang tiada tara, tak terkira.
Nah di film Kill, nampaknya sang director ingin mengambil jalan tengah. Mencoba sedikit realistis layaknya manusia normal. Ada bagian kala-kala dulu, lalu sebagian menang. Di mix. Sayangnya takarannya kurang pas. Akhirnya perkelahiannya terkesan mem-pareare pemirsa yang nonton.
Okelah, mungkin di film lain ada adegan berkelahi yang diluar prediksi BMKG, tapi kita masih bilang; hargai, hargai, yang penting sudah effort. Situasi di film Kill sangat &^%90hsg&^5**blesabfskwet, saya tulis begitu karena sudah kehilangan kata-kata untuk deskripsikan, belum ada padanannya.
Jadi, durasi filmnya 90 persen adegan berkelahi dalam gerbong kereta yang dibajak oleh gerombolan penjahat. Dalam kereta ada si Jagoan, ia tentara, anggota komando bersama seorang kawannya yang rasa saudara dan juga sang kekasih beserta keluarga besarnya. Saat penjahat beraksi menjarah, Amrit si jagoan bersama kawannya, tampil sebagai hero.
Mulanya, saya terka dia akan seperti Salaar, yang Ketika menghunuskan tinjunya ke udara, tiba-tiba angin tatiup, debu jatuh di atas lalu para penjahat berguguran, tampias kemana-mana. But i’m totally wrong.
Ternyata dia “dirujak” oleh para gerombolan. Nantilah kawan baiknya mati tertikam, ia mulai mengamuk, menganjing buta. Kilasan memori indah dengan kawannya muncul. Ia terasa seperti tercas kembali dan tampil beringas dengan kekuatan penuh. Sambil sedih, menitiskan air mata, dia libas satu demi satu penjahat.
Sayangnya setelah beberapa adegan baku hantam, ia kembali setingan default, dirujak lagi oleh para bandit. Di pica-pica bibirnya, di colo-colo ulu hatinya. Dendam untuk membalaskan temannya tidak kesampaian. Naluri Prindavan saya berontak, jagoan apa ini. cuiihhh…
Saat sudah setengah pingsan, ia lihat pacarnya disandera penjahat. Di depan matanya, leher si pacar di tikam. Sadis. Melototlah dia, bergetar wajahnya. darah segar muncrat dari kerongkongan sang pacar. Entah se-adedeh apa yang Amrit rasakan liat kejadian itu. Lalu tiba-tiba ia kembali mengamuk seperti tadi. Seperti tercas lagi.
Kilasan memori dia menari dengan kekasihnya tiba-tiba muncul dalam sutingan lambat. Dia bangkit bangun dengan kekuatan lebih super dari yang tadi!. Kali ini dia mensetan buta. Terjadilah adegan saling bunuh paling brutal sepanjang felem. Namun, kengerian itu tidak lama, si jagoan kembali soak. kamvretttt, padahal kita sudah serius.
Disinilah letak parearenya. Kejadian ini ibarat siklus musiman, tantenya mati, tercas lagi, jago, “dirujak”, calon mertuanya mati, tercas lagi. jago, “dirujak” kembali. Jadi untuk mencapai kekuatan maha supernya si jagoan harus menyaksikan kerabatnya mati dulu satu-satu. sambal “dirujak” bertubi-tubi. Ini jagoan tipe baru yang diciptakan Bollywood. Nda bae. Liat saja di foto ini, sedikit lagi lehernya sudah kena sumbele. Beda dengan Salman Khan, jangankan penjahat mau pegang lehernya, inja bayangannya saja, tida ada yang berani.
Kalau niatnya mau bermain-main dengan emosi penonton, it’s okey, tapi tidak begini. Nda bae caranya. Nda menghibur, malah bikin jidat saya sixpack, karena berubah jadi atlit angkat beban pikiran. Saran saya, nda usah dinonton.
Hanya saja, kalau tidak bisa menaklukkan gravitasi, cinta, atau logika — bukan India namanya.
Karena di sinema India, hukum alam itu hanya sampingan, dan patah hati bisa jadi jurus pamungkas.
Kalau jagoannya belum bisa terbang tanpa alasan, belum bisa baku pukul sambil melulo, atau belum bisa menghidupkan kembali harapan bangsa hanya dengan tatapan mata, berarti itu bukan film India, itu felem naga-naga Indosiar.
Di film India, cinta tak butuh restu, cukup slow motion, lagu pengiring dan joget sampe bongkar tenda.
Logika? apa itu, logika disimpan di koper, buat jaga-jaga kalau kehabisan naskah.
Dan gravitasi? Ah, itu kan cuma kendala kecil yang bisa dibanting balik kalau sang jagoan mengamuk.
Jadi kalau kamu nonton dan merasa bingung…
Tenang. Bukan kamu yang salah. Duniamu aja yang terlalu normal.(agr)
