Rasa-rasanya, satu-satunya hal yang bisa bikin Arsenal gagal juara musim ini hanya kalo Perang Dunia di Greenland terjadi.
Ada satu permohonan sederhana dari Gooners kepada para pemimpin dunia, khususnya Donald Trump dan kawan-kawan pecinta peta geopolitik, tolong jangan bikin perang dunia ketiga sekarang.
Bukan karena dunia belum siap. Dunia memang tak pernah siap. Tapi karena Arsenal sedang memimpin klasemen.
Ini nda bercanda. Serius.
Bertahun-tahun. Fans Arsenal dilatih oleh sejarah, untuk bersikap rendah hati secara terpaksa. Mereka diajari untuk tidak terlalu berharap, untuk selalu menambahkan frasa “asal konsisten” setiap kali beradu mulut dengan fans city atau ipul, tentang kans juara.
Kini, ketika konsistensi itu akhirnya datang, dunia malah sibuk bermain Risk. Di Venezuela Maduro diseret, Greenland dilirik, NATO gelisah, dan Trump membolak-balik peta global seperti mencari gambar ayam sambal matah pada katalog menu makanan.
Donald Trump, dalam gaya khasnya, kembali mengingatkan kita bahwa abad ke-21 belum sepenuhnya meninggalkan naluri abad ke-19. Naluri imperialis dan kolonialis. Sebuah kemunduran dari konsensus kedaulatan tidak boleh dipaksakan, perubahan wilayah harus lewat hukum dan persetujuan rakyat.
Negara besar merasa berhak mengambil wilayah lain. Dunia dipandang sebagai peta buta yang boleh dibagi-bagi. Logika kasarnya, kalo kamu kuat, kamu boleh punya apa saja. Maka Trump yang berkoar-koar membicarakan Greenland sebagai objek yang bisa “diambil” di hadapan jurnalis telah mengaktifkan kembali logika purba, wilayah, sama dengan alat kekuasaan, bukan rumah bagi manusia.
Padahal, teknologi di abad 21 ini sudah canggih, sayangnya insting politik sejumlah pemimpin dunia masih bertahan di tahun 1800-an. Termasuk la anu itu.
Masalahnya, ini semua terjadi di musim yang salah.
Secara geopolitik, para analis akan menyebutnya sebagai escalatory rhetoric. Secara awam, ini disebut ribut nda tahu waktu. Dunia sudah penuh krisis. Iklim, pangan, sawit, energi, perang yang belum selesai di Middle East, Ukraina, Iran, dll.
ehh,,,wait. kenapa ada terselip sawit ?…
Menambahkan potensi konflik baru demi pulau es krim rasanya seperti menyalakan kembang api di gudang pertamax, lalu heran kenapa semua orang panik.
Dan di tengah semua itu, Arsenal, klub gudang peluru di London Utara yang selama bertahun-tahun dijadikan bahan lelucon tentang “nda ada mental juaranya, tukang jaga piala orang”, justru tampil tenang. Arteta CS tidak ribut. Mereka tidak mengancam siapa pun. Mereka hanya ingin menang sepak bola.
Ironis, bukan? Negara besar dengan nuklir tak mampu menahan ego kecil, sementara klub bola dengan sejarah patah hati bertubi-tubi bisa belajar bersabar.
Saya membayangkan jika perang dunia ketiga benar-benar pecah di Kutub Utara. Liga dihentikan. Musim dibatalkan. Arsenal memimpin, dan gelar, oleh Football Association (FA) “akan diputuskan kemudian”. Nah, kata “kemudian” adalah trauma kolektif bagi fans The Gunners. “Kemudian” adalah saudara kandung dari “nyaris” dan “tahun depan”.
Secara akademis, olahraga adalah instrumen stabilitas sosial. Ia menyediakan ilusi keteraturan di dunia yang chaos. Maka secara logika kebijakan publik, membiarkan Arsenal juara justru adalah langkah preventif konflik. Fans yang bahagia tidak punya energi untuk marah pada dunia (kecuali fans Setan Merah mungkin). Para pecinta sepakbola akan sibuk menghitung poin dan membandingkan statistik xG (expected goals).
Jika para pemimpin global benar-benar peduli pada perdamaian, seharusnya ada kesepakatan tak tertulis. Tidak boleh ada perang besar selama musim kompetisi krusial. Apalagi saat ada klub yang sudah terlalu lama menunggu. Mohon, jangan di are-areki.
Percayalah, Greenland tidak akan ke mana-mana. Es itu sabar. Ambisi geopolitik bisa menunggu. Sejarah membuktikan, dunia sudah berkali-kali hampir kiamat dan tetap bisa diulang nanti. Tapi momen Arsenal seperti ini, rapi, dewasa, dalam, set piece maut, tidak banyak drama, jarang terjadi.
Maka mewakili para Gooners saya menyampaikan tuntutan moral. Tunda dulu perang. Tunda dulu aneksasi. Tunda dulu ego global.
Biarkan Arsenal menyelesaikan musimnya.
Jika dunia harus kacau, lakukanlah setelah Mei. Yang penting Arsenal bisa Treble, nda urus piala dunia.
Setidaknya, beri kami satu gelar sebelum semuanya terbakar.
Karena kalau Arsenal gagal juara dan dunia hancur, itu bukan takdir melainkan kegagalan kebijakan publik yang tak termaafkan.(agr)
