Benar. Tapi Tidak Lengkap

Viktor Laiskodat bilang laut adalah penyumbang oksigen terbesar di dunia. Bukan hutan. Media sosial pun riuh. Ada yang marah. Ada yang menertawakan. Ada juga yang bingung.

Sejak kecil kita diajari satu hal: hutan adalah paru-paru dunia. Terutama hutan hujan tropis.
Maka ketika ada pejabat bilang sebaliknya, rasanya seperti ada yang dibalik.

Padahal, persoalannya bukan siapa benar siapa salah. Ini soal cara memahami sains.
Secara utuh. Tidak sepotong.

Faktanya, laut memang menghasilkan oksigen dalam jumlah sangat besar. Di permukaannya hidup fitoplankton. Makhluk kecil. Tak terlihat mata. Tapi jumlahnya luar biasa.
Mereka berfotosintesis. Seperti pohon. Hasilnya: oksigen.

Sekitar setengah produksi oksigen global berasal dari laut. Jadi kalau dibilang laut penyumbang terbesar oksigen, itu benar. Secara produksi.

Masalahnya, di sinilah banyak orang keliru. Produksi disangka simpanan.

Oksigen yang dihasilkan di laut tidak semuanya “gratis” untuk kita hirup. Sebagian besar langsung dipakai lagi. Oleh fitoplankton itu sendiri. Oleh ikan. Oleh organisme laut lainnya. Oleh bakteri pengurai.

Dalam kelas Biologi SMP, proses ini namanya respirasi. Makhluk hidup memakai oksigen untuk hidup. Menghasilkan energi. Lalu melepas karbon dioksida.

Ada juga dekomposisi. Penguraian bangkai dan sisa-sisa kehidupan. Itu pun menghabiskan oksigen.
Di darat, ceritanya tak jauh berbeda. Hutan hujan tropis juga begitu. Pohon menghasilkan oksigen. Tapi pohon juga bernapas. Siang dan malam.

Hewan bernapas. Anj*g bernapas, Ba*i bernapas. Mikroba tanah bekerja terus. Daun gugur cepat membusuk. Kayu mati cepat terurai.

Iklim tropis hangat dan lembap. Semua proses berjalan cepat.
Karena itu para ilmuwan menyebut hutan hujan tropis modern nyaris netral oksigen. Artinya sederhana; yang dihasilkan, hampir habis dipakai kembali.

Netral bukan berarti tidak penting. Bukan berarti hutan tak berguna. Justru sebaliknya. Hutan itu sibuk. Sangat sibuk. Segalanya hidup. Segalanya bergerak. Segalanya bernapas.

Lalu dari mana oksigen yang memenuhi atmosfer Bumi berasal?
Jawabannya bukan dari hari ini. Tapi dari waktu yang sangat panjang.

Dulu, sebagian karbon hasil fotosintesis tidak kembali terurai. Ia tenggelam. Terkubur. Terkunci.
Banyak terjadi di laut. Di dasar samudra. Selama jutaan tahun. Karbon terkunci. Oksigen tertinggal di udara.

Dari situlah atmosfer kaya oksigen terbentuk. Jauh sebelum manusia mengenal hutan hujan tropis seperti sekarang. Maka perdebatan laut versus hutan sering salah arah. Laut menghasilkan oksigen. Hutan juga.
Keduanya sama-sama menghabiskannya kembali.

Perbedaannya bukan soal jasa. Tapi soal peran.
Nilai hutan bukan cuma oksigen. Ia menyerap karbon. Menjaga iklim. Mengatur air. Menopang kehidupan. Nilai laut juga bukan cuma oksigen. Ia menyerap panas. Menyimpan karbon. Mengatur cuaca. Menjadi penyangga terbesar sistem Bumi.

Masalah muncul ketika kita bicara pertambangan.
Hutan sering dipandang sederhana. Hamparan pohon. Tebang. Lalu tanam lagi. Logikanya; oksigen bisa diganti. Padahal yang hilang bukan cuma pohon.

Yang hilang adalah kemampuan menahan banjir. Mencegah longsor. Menjaga tanah tetap hidup. Menjaga iklim lokal tetap stabil.

Oksigen mungkin masih ada. Tapi sistem penopang kehidupan perlahan runtuh. Di laut pun sama. Tambang lepas pantai. Sedimentasi. Tailing. Limbah. Selama laut masih biru, dianggap aman. Padahal laut bukan ruang kosong.

Ia menyerap panas berlebih. Menjaga keseimbangan iklim global. Menopang rantai kehidupan dari plankton sampai nelayan. Ketika pesisir rusak, yang terganggu bukan hanya satu wilayah. Tapi sistem Bumi.

Persoalan makin rumit ketika kebijakan hanya menghitung angka jangka pendek. Produksi. Royalti. Penerimaan.

Ekologi jangka panjang diabaikan. Oksigen dijadikan alasan. Hutan bisa tumbuh lagi. Laut bisa pulih sendiri. Padahal banyak kerusakan tidak bisa dipulihkan. Atau butuh waktu yang melampaui satu generasi.
Sekali sistem air rusak. Sekali iklim mikro berubah. Sekali rantai kehidupan putus. Dampaknya panjang.
Karena itu, pertanyaan sesungguhnya bukan lagi soal laut atau hutan. Bukan soal siapa penyumbang oksigen terbesar.

Melainkan, berapa harga yang harus dibayar ketika sistem penopang Bumi dirusak atas nama pembangunan?

Pernyataan Viktor Laiskodat seharusnya dibaca sebagai pemantik. Bukan bahan ejekan. Bukan pula amarah.

Ia mengingatkan satu hal, alam tidak sesederhana slogan. Sains tidak selalu nyaman. Dan kebingungan publik sering kali lahir karena kita terlalu lama menjelaskan dunia dengan kalimat yang terlalu pendek.

Nah, karena yang bicara adalah pejabat publik, khawatirnya pemahaman yang tidak utuh ini akan menjadi basis pembuatan kebijakan lingkungan. Dan, kebijakan publik sangat riskan dibangun di atas kebenaran yang baku steken alias stenga-stenga. (*)

One thought on “Benar. Tapi Tidak Lengkap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *