Meretas Manusia Lewat Kurikulum

Entah secadas apa lingkungan tempat La Ronta tumbuh dan segetir apa pengalaman yang dilaluinya. Di hari  pertama ia kembali merasakan atmosfer ruang kelas setelah sekian lama berjibaku dengan terik, bising deru  kendaraan dan debu jalanan, ia menunjukkan sisi liarnya. Bocah putus sekolah itu enteng saja menggambar  kelamin manusia seukuran halaman bukunya. Tingkahnya membuat kakak guru kehilangan kosa kata.

Selain liar, La Ronta juga misterius. Setelah peristiwa yang membombardir nalar kawan-kawan sebantaran usianya,  ia enggan lagi datang ke Mainawa Kreativa-sebuah sekolah informal di Kota Baubau yang berfokus pada life skill  dengan mengusung konsep school of human berbasis kurikulum semi internasional.

Anak-anak Mainawa melakukan poyek sosial berupa Social Experience Approach (SEA). Mereka meneliti fenomena sosial tentang anak-anak putus sekolah di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

Di usia masih kelas 4 SD, ia putus sekolah. La Ronta memilih mengakrabi jalanan. Kawan-kawan di Mainawa tidak  menyerah. Jika bocah itu tak sanggup datang ke sekolah, maka sekolah yang harus mendatanginya. Sebagai  sekolah informal, Mainawa Kreativa hadir dengan kurikulum Project Based Learning. Tidak hanya itu, Mainawa  juga menerapkan metode Quantum Learning. Tidak rigid, Mainawa menyusun mata pelajaran berdasarkan  kebutuhan siswanya, termasuk kebutuhan La Ronta, agar ia tidak menyerah dengan masa depannya.

***

Dua dekade ke depan menjadi target dalam perjalanan bangsa Indonesia agar menjadi negara maju. Tidak lama  lagi. Deadline itu semakin terasa dekat untuk wujudkan Indonesia sebagai salah satu dari 5 kekuatan ekonomi  dunia.

Pertanyaan 1 juta dolarnya ialah, jika hari ini adik saya dan anak-anak kita lahir atau bahkan La Ronta, hal apa  yang perlu diajarkan kepada mereka agar dapat bertahan hidup dan berkembang 22 tahun kemudian,  menyongsong usia se-abad negeri ini. Metode pendidikan seperti apa yang penting mereka peroleh agar menjadi  individu yang sesuai dengan visi Indonesia 2045 yakni kualitas manusia yang unggul, serta menguasai ilmu  pengetahuan dan teknologi. Jika visi itu perlu ditegaskan, dan memperoleh pendidikan itu hak, maka La Ronta  harus dikejar, di lubang manapun ia bersembunyi.

Sebab, cara mereka memahami lingkungan sekitar yang berubah begitu radikal dan kemahiran dalam menavigasi  labirin kehidupan kelak sangat tergantung pada pendidikan yang mereka dapatkan. Mereka bertumbuh dalam  warisan sistem yang kita tinggalkan.

Ironinya, di tengah tenggat waktu yang menipis, pendidikan masih saja terbelit isu kesenjangan, aksesibilitas dan  kesiapan sumber daya manusia. Segenap kita perlu melakukan lompatan berpikir untuk mengejar segala  ketertinggalan.

Memori kolektif kita mengenang ekspedisi kapsul waktu. Berisi impian besar generasi Indonesia sejak tahun 2015  hingga 2085. Kapsul waktu tersebut memuat tujuh mimpi besar anak-anak Indonesia; kecerdasan SDM  mengungguli bangsa lain, masyarakat menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius, dan nilai etika, Indonesia  sebagai pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban dunia, masyarakat dan aparatur bebas dari perilaku korupsi,  infrastruktur yang merata, Indonesia yang mandiri dan berpengaruh di Asia Pasifik dan Indonesia sebagai  barometer pertumbuhan ekonomi dunia.

Seluruh target tersebut membutuhkan peran penting dari pendidikan, terutama kurikulum. Kurikulum merupakan  pedoman dalam memberikan pendidikan, sehingga memiliki peran penting dalam menentukan kualitas. Oleh  karena itu, penting untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan visi Indonesia 2045 atau yang  mendukung terwujudnya asa anak-anak Indonesia dalam kapsul waktu itu.

Salah satu cara untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan visi tersebut adalah dengan menerapkan  kurikulum internasional yang telah diakui dan diterapkan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris,  dan Jepang. Kurikulum ini memiliki standar yang tinggi dan telah terbukti berhasil dalam melahirkan individu  yang berkualitas.

Dengan menerapkan kurikulum internasional, Indonesia dapat memperoleh berbagai manfaat, di antaranya adalah  meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas wawasan, serta meningkatkan daya saing dengan negara-negara  lain. Selain itu, kurikulum internasional juga dapat membantu mengatasi masalah isu kesenjangan, aksesibilitas,  dan kesiapan sumber daya manusia di Indonesia.

Namun, penerapan kurikulum internasional di Indonesia tidaklah mudah. Ada beberapa tantangan yang harus  diatasi, di antaranya adalah perbedaan budaya dan bahasa, serta biaya yang tinggi untuk memperoleh materi dan  sumber daya pendukungnya. Oleh karena itu, perlu adanya perencanaan yang matang dan dukungan yang kuat dari  pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan.

Dalam menghadapi tantangan dan memperoleh manfaat dari penerapan kurikulum internasional, perlu adanya  kolaborasi antara berbagai pihak, seperti pemerintah, dunia pendidikan, industri, dan masyarakat. Dengan  kolaborasi yang baik, maka pengembangan kurikulum internasional dapat berjalan dengan baik dan memberikan  manfaat yang maksimal bagi pendidikan di Indonesia.

Sebagai elemen bangsa yang fokus pada pendidikan modern dan humanis, Sampoerna University turut menjadi  lembaga kolaboratif bagi pemerintah untuk mewujudkan visi Indonesia Maju. Universitas swasta yang terletak di  Jakarta ini menawarkan berbagai program studi yang disesuaikan dengan kurikulum internasional yang  terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dan badan akreditasi internasional.

Kampus Sampoerna University. Salah satu lembaga pendidikan tinggi di Indonesia yang menerapkan kurikulum internasional.

Untuk memberi daya dukung dalam kompetensi bekerja lulusannya, Sampoerna University menerapkan project  based learning atau Kurikulum Berbasis Proyek (KBP). Pendekatan dalam kurikulum ini menekankan  pembelajaran melalui proyek atau tugas yang memerlukan pemecahan masalah yang kreatif dan kritis. KBP juga  mendorong mahasiswa bekerja dalam kelompok dan mengembangkan kemampuan komunikasi dan  kolaborasi.

Selanjutnya, ada Kurikulum Berbasis Keterampilan (KBKtr), sebuah pendekatan yang menekankan pada  pengembangan keterampilan praktis seperti komunikasi, pemecahan masalah, dan pemikiran kritis. KBKtr juga  melibatkan kegiatan praktikum, simulasi, dan latihan lapangan untuk memperkuat keterampilan mahasiswa dalam  situasi dunia nyata.

Sejauh amatan saya, yang menarik ialah Kurikulum Berbasis Entrepreneurship (KBE). Sebuah  terobosan metodologis dalam melejitkan bibit wirausahawan muda di tanah air. Penekanannya pada  pengembangan keterampilan kewirausahaan dan inovasi, serta mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi  pemimpin dalam bisnis dan industri. KBE meliputi program-program seperti magang dan kerja lapangan,  memungkinkan mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman bisnis.

Untuk merasakan atmosfer pendidikan internasional, Sampoerna University bekerja sama dengan universitas-partner internasional, seperti University of Arizona dan Texas A&M University, serta mengikuti standar internasional dalam pengembangan kurikulumnya. Selain itu, Sampoerna University juga menekankan pada pengembangan soft skill, seperti kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, dan keterampilan interkultural, yang sangat penting dalam persaingan global saat ini.

Dalam menerapkan kurikulum internasional, perlu juga mempertimbangkan kelayakan dan kebutuhan lokal.  Kurikulum internasional dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lokal, sehingga dapat memberikan  manfaat yang optimal bagi pengembangan pendidikan di Indonesia. Seperti nasib La Ronta dan yang diupayakan oleh kawan-kawan saya di Mainawa, melakukan pendekatan khusus agar La Ronta tetap mengenyam pendidikan meski berada di luar bangku sekolah resmi. Ini cara pelan menyesuaikan kurikulum internasional lewat jalur pendidikan informal. Hanya dengan menyelamatkan orang-orang seperti La Ronta,  Indonesia dapat mencapai visinya sebagai negara yang memiliki kualitas manusia yang unggul dan menguasai ilmu pengetahuan. (*)