Pelajaran Moral dari Membunuh

Polisi: Kenapa ko pi tabrak orang banyak?!
Sopir: Pak, sumpah niat ku cuma tabrak satu ji!
Polisi: Satu orang? Ini buktinya korban tahambur begini!
Sopir: Begini Pak… saya lagi menyetir, di tengah jalan ada pesta. Baru remku blong. Di seberang jalan, ada nenek-nenek sendirian. Nah, saya pikir, mending dia saja sa sikat. Daripada banya yang mati!
Polisi: …Terus, kenapa begini?
Sopir: Ya saya banting setir ke arah tu nenek. Eh, tiba-tiba da lari ke arah pesta!
Polisi: Hah?!
Sopir: Terpaksa. Saya kejar mi. Soalnya sa sudah putuskan tabrak dia saja.

Entah betulan atau tidak, dilingkungan kita, kasus dalam dialog di atas hanya jadi bahan mob sambil mabo. Namun di Harvard, kasus diatas menjadi pengantar Michael Sandel membuka kuliah filsafatnya. Ia mengawali dengan cerita dan satu pertanyaan sederhana namun mengguncang kesadaran moral kita.

“Jika Anda sedang berkendara di atas rel dan rem kendaraan anda blong, di jalur depan ada lima orang, sementara di jalur kanan hanya ada satu orang—apa yang harus Anda lakukan?”

Pertanyaan itu terdengar seperti teka-teki, tetapi jauh di dalamnya tersembunyi dilema moral yang menguji nurani kita. Haruskah kita mengikuti kalkulasi rasional, atau patuh pada prinsip kemanusiaan?

Mahasiswanya banyak yang tanpa ragu, memilih membelok ke kanan, mengorbankan satu nyawa demi menyelamatkan lima. Logika ini mengikuti jalan pikir utilitarianisme yakni tindakan yang benar adalah tindakan yang memaksimalkan kebahagiaan atau meminimalkan penderitaan.

Namun, di balik kalkulasi ini, timbul kegelisahan. Apakah manusia hanyalah angka yang bisa dijumlahkan? Apakah hak hidup seseorang bisa direduksi menjadi pecahan dari kebaikan bersama?

Tidak berhenti disitu, Sandel kemudian memutar arah pada kasus lain. Tanyakan ini pada diri anda sendiri. Seandainya anda dokter, lalu lima pasien datang dan membutuhkan transplantasi organ agar bisa survive. Anda tidak punya organnya. Tapi tiba-tiba ada satu pasien sehat datang untuk cek rutin. Jika orang itu anda bius dan korbankan organnya, maka lima orang itu akan bisa tetap hidup. Apakah anda akan melakukannya?

Mayoritas mahasiswa menjawab tidak, kecuali yang memilik kecenderungan psikopat.
Mengapa? Bukankah logika utilitarian masih berlaku? Membunuh satu untuk menyelamatkan lima? Mengapa hati kita menolak jika dibandingkan dengan kasus yang pertama. Ada sesuatu yang berbeda di sini, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan angka.

Mengapa membelokkan kendaraan untuk membunuh dengan menabrak satu orang terasa lebih dapat diterima daripada membunuh satu pasien sehat?
Tentu ada banyak perspektif berkembang namun secara filsafat jawabannya terletak pada niat dan cara. Dalam kasus mobil, kematian satu orang adalah konsekuensi tak terhindarkan dari upaya menyelamatkan lima. Kita tidak memanfaatkan tubuhnya sebagai sarana, kita hanya memilih akibat yang lebih kecil dari dua keburukan.

Sebaliknya, dalam kasus dokter, kita menggunakan tubuh pasien sehat sebagai alat. Ia menjadi objek, sarana demi tujuan. Secara moral, ini mereduksi martabat manusia menjadi instrumen.

Begitu juga ketika pandemi COVID-19 memuncak, banyak rumah sakit di India, Italia, Spanyol, hingga Amerika kekurangan ventilator. Dokter dipaksa memutuskan. Siapa yang mendapat alat penyelamat? Sebagian memilih pendekatan utilitarian untuk memprioritaskan pasien muda dengan peluang hidup lebih tinggi. Secara kalkulasi, keputusan ini “benar.” Tetapi, apakah adil menyingkirkan pasien lansia hanya karena mereka dianggap tua dan kurang bermanfaat bagi masa depan?

Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Alasannya, mempercepat berakhirnya perang, menyelamatkan jutaan nyawa prajurit dan warga sipil di masa depan. Korbankan 200 ribu orang Jepang untuk selamatkan jutaan. Masuk akal? Mungkin. Tetapi, siapkah kita menanggung dosa membunuh mereka yang tidak bersalah demi tujuan strategis?

Menurut Sandel, perbedaan mendasarnya bukan hanya jumlah korban, tetapi struktur tindakan moralnya. Dalam kasus kendaraan misalnya, tindakan kita adalah mengalihkan bahaya, dari lima ke satu. Dalam kasus dokter, kita menciptakan bahaya baru dengan membunuh yang tadinya aman.

Inilah garis pembatas yang diam-diam kita akui, lebih mudah menerima konsekuensi daripada menjadi pelaku langsung yang mengorbankan.

Namun apakah perbedaan itu cukup kuat untuk membenarkan dua keputusan moral yang berbeda?

Bagi banyak orang, ya. Karena ada prinsip bahwa manusia tidak boleh dijadikan alat semata. Prinsip ini seperti yang dikemukakan Immanuel Kant adalah tembok pertahanan terhadap tirani kalkulasi. Namun, apakah prinsip ini mutlak? Atau sekadar gema dari intuisi kita yang rapuh? Sandel tidak memberi jawaban final, ia hanya mengajak kita menatap ketegangan ini.

Apa yang kita pelajari dari dua dilema ini adalah kenyataan pahit bahwa moralitas bukan sekadar ilmu hitung. Ia adalah percakapan antara logika dan hati, antara konsekuensi dan prinsip. Dunia yang hanya dikuasai oleh angka akan kehilangan wajah manusia, namun dunia yang hanya memuja prinsip bisa menutup mata pada penderitaan massal.

Mungkin, seperti kata Sandel, filsafat bukan untuk memberi jawaban pasti, melainkan untuk mempertajam pertanyaan. Apakah kita sanggup hidup dengan keputusan yang kita buat dan dengan alasan di baliknya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *