Nenek moyang orang Indonesia terbiasa menyabung nyawa di tengah debur gelombang samudera hingga menjadi bangsa pengembara lautan.
Sejarah kejayaan maritim Indonesia, dimulai ketika merebaknya kerajaan Hindu-Budha. Dua di antara kekuatan monarki yang tercatat rapi dalam lembaran sejarah Indonesia dalam konteks maritim ialah Sriwijaya dan Majapahit. Rezim Sriwijaya berjaya di abad ke-7. Dan rezim Hayam Wuruk di Majapahit mencapai puncak ke-emasan pada abad ke-13 hingga ke- 14. Baik Sriwijaya maupun Majapahit seolah mengajarkan republik yang telah berdiri selama 77 tahun ini betapa pentingnya jalur komoditas perdagangan.

Penemuan artefak China dan India di Indonesia juga berbicara lantang tentang bagaimana pergaulan internasional yang dilakoni Sriwijaya dan Majapahit yang menegaskan jejak-jejak kemaritiman mereka. Kisah tentang dua kerajaan ini saya temukan pada satu cuplikan video berdurasi 17 menit di channel youtube, mengulas kedigdayaan dua kerajaan itu lewat platform tersebut terlampau singkat untuk mengurai secara komprehensif budaya maritim nusantara (Sriwijaya dan Majapahit) yang demikian kompleks yang berlangsung ratusan tahun lamanya.

Sehingga saya tidak menemukan analisis yang cukup mendalam mengenai hilangnya kejayaan maritim Indonesia saat itu. Dapat ditemukan pernyataan bahwa Indonesia kini adalah refleksi dari kekuatan maritim Sriwijaya dan Majapahit, namun tidak memberikan contoh konkret bagaimana Indonesia masih memiliki kekuatan maritim yang memadai atau kurangnya investasi dalam sektor maritim Indonesia saat ini.
Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya disebut sebagai negara maritim, sebab memiliki wilayah kendali kekuasaan yang sangat strategis yaitu di tengah jalur pelayaran perdagangan antara India dan China, sehingga mampu menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan.

Status sebagai negara maritim juga disebabkan posisinya yang berdekatan dengan selat Malaka yang merupakan urat nadi penghubung dengan Asia Tenggara. Dengan area kendali yang luas, menunjukkan kekuatan armada Sriwijaya yang kuat dan dapat menjamin jalur-jalur pelayaran di area. Angkatan laut Sriwijaya bertugas mengawasi, melindungi kapal-kapal dagang yang berlabuh serta memungut biaya cukai.
Majapahit
Konsep Poros Maritim Majapahit. Kemakmuran Majapahit ditopang perdagangan maritim. Pelabuhan Mapajahit di Tuban dan Hujung Galuh menjadi hub (pelabuhan utama) yang menghimpun berbagai jenis komoditas Nusantara (beras, hasil hutan dan rempah-rempah). Majapahit menjalin jejaring perdagangan maritim dengan negeri-negeri di Nusantara dan negara-negara sahabat di Asia Tenggara dan menjadi poros maritim dunia antara India dan Tiongkok.

Terdapat tiga poros maritim dengan hub di Majapahit, yakni poros Selat Malaka-Laut Jawa-Maluku, poros Laut Jawa-Selat Makassar-Filipina-Taiwan- Tiongkok, serta poros Sumatera Selatan-Selat Karimata-Champa-Tiongkok. Untuk memperkaya perspektif, sebuah artikel dari The Diplomat yang berjudul
“Indonesia’s Maritime Vision 2045: Promises and Challenges” menyatakan bahwa sementara Indonesia memiliki potensi maritim yang besar, tantangan yang dihadapi meliputi kurangnya infrastruktur pelabuhan, kurangnya tenaga kerja terampil, dan kurangnya investasi dalam riset dan pengembangan di sektor maritim. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa Indonesia perlu meningkatkan kerja sama dengan negara-negara lain dan memperkuat posisi Indonesia di kawasan maritim Asia Tenggara.

Dalam rangka mengembangkan sektor maritim Indonesia, pemerintah Indonesia telah mengumumkan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia (Global Maritime Fulcrum) pada tahun 2014, yang bertujuan untuk membangun infrastruktur maritim dan meningkatkan kemampuan maritim Indonesia di dunia internasional.

Namun, implementasi visi tersebut masih dihadapkan dengan banyak kendala dan tantangan. Bagaimanapun juga, catatan di bawah ini adalah fakta sejarah yang menarik tentang sejarah maritim Indonesia. Termasuk catatan ketika kejayaan maritim Indonesia merosot pada masa penjajahan oleh Belanda dan kolonialisme yang dilakukannya pada sektor maritim, termasuk monopoli perdagangan rempah-rempah yang memberikan dampak buruk bagi perekonomian Indonesia.





