Battle of Sultra

Battle Sultra

Sulawesi Tenggara, tahun 2045. Langit yang biasanya biru cerah di atas Teluk Kendari yang cokelat, kini dipenuhi jelaga hitam. Bunyi dentuman tidak lagi datang dari barongsai Kota Lama atau meriam bambu di penjuru desa, melainkan dari tembakan sporadis rudal, mortir dan senapan mesin. Provinsi yang dulu dikenal damai, dengan laut Wakatobi yang bening dan hamparan hutan tropis di Lambusango, kini berubah menjadi medan konflik. Bergejolak.

Konflik dimulai dari sengketa tambang yang melibatkan perusahaan asing dan milisi lokal. Ketimpangan ekonomi yang akut, penggusuran tanah adat, serta provokasi politik akhirnya menyulut pemberontakan bersenjata. Kelompok-kelompok bersenjata yang mengatasnamakan “kemerdekaan ekonomi rakyat lokal” mulai menguasai titik-titik strategis: pelabuhan, bandara, bahkan sebagian wilayah Buton dan Kolaka.
Pemerintah pusat menetapkan status darurat militer. Namun, pasukan yang dikirim tak cukup menenangkan situasi. Jalan raya poros Kendari-Kolaka dipenuhi kendaraan lapis baja, dan ribuan warga mengungsi ke pegunungan karst Muna dan Pulau Kabaena. Di kamp-kamp pengungsian, anak-anak belajar membaca di bawah cahaya lilin, sementara para ibu memasak dengan air hujan.

Saat itu, Indonesia memasuki krisis energi dan pangan global. Pemerintah pusat membuka akses besar-besaran bagi investasi asing di sektor tambang dan infrastruktur. Sulawesi Tenggara, kaya akan nikel, emas, dan aspal, menjadi target eksploitasi. Kontrak-kontrak tambang diberikan kepada perusahaan multinasional, sering kali tanpa konsultasi dengan masyarakat adat.

Di balik janji kesejahteraan, tambang-tambang itu merusak tanah adat Tolaki, hutan-hutan di Buton, Konawe Utara, dan pesisir Wawonii. Banyak desa digusur, sawah dan sungai tercemar limbah tambang. Sementara keuntungan mengalir ke luar negeri, rakyat setempat terjebak dalam kemiskinan dan pengangguran.

Pemicu eskalasi konflik bermula dari insiden Tebaununggu – Sejumlah oknum melepas tembakan dan menembak mati dua pemuda kembar dalam aksi protes penolakan tambang di Sultra. Video kejadian ini viral.

Perihal kejadian itu, seruan untuk bergabung dalam kelompok Pasukan Berani Mati menggema – Kelompok bersenjata bernama Anoa Merdeka Tanah Tenggara (AMTT) memproklamirkan “perlawanan rakyat atas kolonialisme ekonomi”. Pemadaman total di jazirah Sulawesi Tenggara selama 6 jam lebih – Menyusul sabotase kabel PLN dan gardu listrik, pemerintah menetapkan status darurat dan mengirim militer ke Sulawesi Tenggara.

Konflik berskala penuh dimulai pada 14 Mei 2045, ketika kelompok AMTT menyerbu markas tambang PT Iguana Maburako Nickel di Konawe. Mereka membakar alat berat, menawan 194 tenaga kerja asing. Pemerintah langsung merespon dengan Operasi Garuda Tenggara, mengerahkan satu batalyon infanteri ke Kota Kendari dan menyegel jalur laut menuju Selat Tiworo, Konawe, Wakatobi dan Kepulauan Buton.

Konflik kemudian menyebar secara asimetris. Milisi lokal (AMTT) menggunakan taktik gerilya, sabotase, dan propaganda. Militer merespon dengan razia besar-besaran, penggusuran, dan serangan udara terbatas. Warga sipil menjadi korban utama, sekolah hancur, rumah-rumah dibakar atas dugaan jadi tempat persembunyian. Wilayah konflik utama yang menjadi palagan tempur paling dramatis ialah Wawonii, basis awal perlawanan. Sedangkan Kolaka dan Bombana jadi alternatif jalur logistik. Kendari tak ubahnya medan urban penuh ketegangan dan bentrokan di jalanan serta konflik perebutan dermaga.

Larangka awalnya bukan aktivis atau anggota Pasukan Berani Mati. Ia hanyalah seorang guru. Tapi ketika sekolahnya dihempaskan ke udara layaknya kediaman Amir Barkawi dalam London Has Fallen, hanya karena dianggap markas “pendukung milisi”, ia kehilangan segalanya — termasuk murid-murid yang gugur karena salah sasaran bom mortir.

Alih-alih bergabung mengangkat senjata, Larangka meilih jalan pedang lain. Ia membentuk jaringan bawah tanah pendidik dan penyintas, yang ia sebut Sekolah Rakyat. Mereka berpindah-pindah dari gua ke hutan, mengajar anak-anak dengan kertas daur ulang dan arang. Sekolah Rakyat juga menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak yatim dan perempuan korban petempuran.

Secara Psikologis, apa yang diperbuat Larangka telah memberi harapan di tengah kehancuran, mencegah banyak anak-anak menjadi tentara anak. Atas pengalamannya sebagai wartawan Metro, ia pun melancarkan propaganda damai – Lewat radio gelombang pendek, ia menyebarkan cerita rakyat dan kutipan para penyair, melawan narasi kekerasan dari kedua belah pihak. Gerakannya itu telah memberinya sebagai the Most Wanted Person oleh Pasukan Garuda Tenggara, karena dianggap sebagai pengganggu narasi perang, baik pemerintah maupun milisi garis keras menganggapnya ancaman ideologis. Sosoknya yang menjadi penengah membuatnya menjadi incaran kedua belah pihak.

Tepat pada 9 September 2045, dengan bantuan informan dari pihak milisi sendiri yang merasa kecewa, lokasi persembunyian Larangka “tabongkar”. Gua tempat Sekolah Rakyat diserbu. Beberapa anak didiknya tewas. Larangka kena tembakan, namun berhasil melarikan diri bersama dua rekan setianya.

Setelah itu, keberadaannya tidak diketahui. Namun, dalam beberapa catatan intelijen, ditemukan transkrip berita di media online terakhirnya: “Aku tidak punya peluru, tapi aku punya kata. Kata yang lahir dari luka, tapi tumbuh jadi jembatan. Jangan takut gelap, sebab harapan menyala dari situ.”

Bersambung….

3 thoughts on “Battle of Sultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *