Sebenarnya sederhana. Saya cuma butuh tempat untuk menaruh pikiran. Tempat yang nda cepat lenyap seperti story yang 24 jam itu, tidak tenggelam algoritma. Tempat yang bisa saya datangi kapanpun saya mau. Kadang, saya tersenyum sendiri, tiap kali menengok apa yang pernah saya tulis, bisanya saya berpikir seperti itu.
Lalu lahirlah www.nuansa95.com, sebagai ganti blog saya sebelumnya wakinamboro.com yang telah saya asuh secara konsisten enam tahun lamanya.
Pilihan nuansa95 adalah bentuk kerinduan saya yang paling diam, pada masa kecil. Pada suasana tahun 90-an. Pada masa ketika hidup terasa lebih pelan, lebih sederhana, dan entah kenapa, lebih hangat. Entahlah, mungkin saya merasa kehidupan terlalu keras menghajar saya akhir-akhir ini. Menjadi dewasa, mengharuskan saya melewati proses pembelajaran yang tak ada hentinya.
Saya tumbuh di era itu. Era manakala Jenderal Soeharto masih jadi Sekcam, begitu sebutan dari kawan saya. Era ketika mainan terbaik bukanlah yang paling mahal, tapi yang paling kreatif. Ketika sore hari bukan dihabiskan dengan scrolling, tapi dengan berlarian main andoke-andoke di luar rumah. Main bola sampai maghrib, kejar layangan putus, opo-opo, kelereng, bente, main oto-oto, main baret sampai pabusa atau sekadar duduk di teras rumah teman sambil bahas hal-hal yang kunci-kunci dunia.
Sebuah fragmen Waktu dimana orang tua melepas kami tanpa khawatir. Satu-satunya ketakutan hanyalah pukulan Mama atau tampelengnya bapa.
Sat-satunya hiburan setelah capek bermain ialah oleh tayangan Dragon Ball, yang tayang seminggu sekali. Itupun nonton di rumah teman yang punya TV. Syaratnya cukup cuci kaki, duduk paseba dan jangan ribut. Kalo terlambat, tidak dibukakan pintu, dan tidak ada tombol replay. Tapi justru karena itu, setiap momen terasa lebih berharga.
Kebiasaan pulang sekolah lalu langsung ganti baju dan keluar lagi, tidak pake makan, semua itu perlahan terasa asing hari ini. Sekarang anak-anak lebih akrab dengan layar daripada tanah lapang. Lebih sering menunduk daripada menatap wajah satu sama lain. Saya terkenang, sepulang sekolah jam 1 siang, 30 menit kemudian kita sudah berkumpul kembali di Stadion Betoambari agenda main bola. Sambil tunggu kawan-kawan yang mungkin masih makan siang, kita main bola seadanya saja, kalo masih berempat, ya 2 vs 2. Sungguh, saya rindu paru-paru masa kecil, sanggup duel 2 vs 2 di lapangan besar stadion Betoambari, sambal di guyur badai. Pasti Messi Waktu kecilnya tidak begitu. Tidak seperti sekarang ini, baru lari 2 meter, lidah keluar 3 meter.
Nuansa95 adalah cara saya menyimpan semua itu. Cara saya merawat kenangan yang tidak ingin saya biarkan pudar. Di sini, tulisan-tulisan saya sering kali berangkat dari kegelisahan melihat perubahan zaman, dari nostalgia kecil yang tiba-tiba muncul, atau dari keinginan sederhana untuk mengingat kembali bagaimana rasanya tumbuh tanpa tergesa-gesa.
Isinya ya… saya. Cara saya melihat hidup hari ini dengan membawa nilai-nilai kemarin. Kadang soal keseharian, kadang tentang olahraga, kadang tentang dunia kampus, kadang cuma tentang pikiran yang mampir di kepala tengah malam. Tidak selalu serius, tidak selalu ringan. Mengalir saja, seperti obrolan yang tidak direncanakan.
Saya tidak pernah berniat menjadikannya media yang terlalu rapi. Nuansa95 lebih seperti godhe-godhe kecil atau deker lorong, tempat saya berbagi cerita, berbagi sudut pandang, dan mungkin berbagi rindu pada masa ketika segalanya belum se-complicated sekarang.
Kalian yang pernah tumbuh di era 90-an, mungkin akan mengerti rasa itu.
Tetapi, kalau antum sekalian lahir setelahnya, mungkin antum akan menemukan cerita tentang dunia yang berbeda dari yang kamu kenal hari ini.
Dan jika kelak suatu ketika antum punya waktu luang dan ingin membaca sesuatu yang tidak terburu-buru, atau sesuatu yang membawa sedikit aroma masa lalu di tengah hiruk-pikuk hari ini, antum tahu harus ke mana. Disini, di www.nuansa95.com.
