Pertandingan Arsenal di Anfield tadi malam tidak menunjukkan jati diri The Gunners sebenarnya. Lebih mirip The Gentlemen. Terlalu sopan. Mereka lupa kalau pertandingan tidak cukup hanya dihormati, tetapi juga harus dimenangkan.
Bahkan media Kompas menyebut laga Liverpool kontra Arsenal ibarat duel dua petinju legendaris yang saling menghormati.
Mungkin itu cukup beralasan mengapa kedua tim bermain hati-hati dan lebih memilih saling menghormati, karena memang kedua tim memiliki sejarah rivalitas yang panjang. Sudah baku tahu ilmu masing-masing.
Untuk menghibur diri, saya ingin ungkit Madrid sejenak. Arsenal tampil beringas meng-kuca Los Blancos kala itu, baik dari skema maupun eksekusi tendangan bebas. Arsenal seakan menelan karma. Mencicipi pengalaman pahit yang dirasakan Madrid: dihancurkan juga lewat bola mati.
Bagi saya fans Arsenal, freekick Dominik Szoboszlai sungguh terlalu indah untuk dilihat tanpa meneteskan air mata kepiluan. Adedeehh…dan yang membikin makin pedis momen itu terjadi di penghujung laga. “Saya sudah menebak arahnya, tapi entah kenapa bola itu seakan menjauh dari tangan saya,” ucap Raya goal keeper yang merangkap jabatan menjadi center back sambil bingung.
Sepanjang 90 menit pertandingan, tidak banyak yang terjadi. Statistik hanya mencatat total 4 tembakan ke gawang. Liverpool 3, Arsenal 1. satu-satunya, angka yang meningkat adalah detak jantung pemirsa. baik the reds atau the gunners sama-sama sepakat mempermainkan emosi penonton dengan bermain pasing pendek di kotak penalti masing-masing.
Ini pasti lantaran gaya permainan hati-hati dan saling menghormati yang saya sebut diawal tadi. Seandainya kedua tim mau bermain lebih arogan layaknya pejabat yang tidak menghargai rakyat, maka saya yakin pertarungan akan sengit. Pasti ada yang terbakar. Dan seandainya para playmaker mau ngotot lebih berjoget-joget di area kotak penalti, pertarungan pasti akan makin panas.
Saya tidak paham maksud Arteta memajang dua pemain andalangku di bench. La Ode Gaard dan La Bebere Eze. Nanti sudah mendekati menit losstime Arteta memasukan mereka. Barulah kemudian permainan agak sedikit hidup dan agresif.
Setelah tertinggal satu gol pada menit-menit akhir, Arsenal baru menemukan sedikit gaya permainan cantiknya. Namun ironi, mereka menemukannya di saat yang tidak berguna. Jagoan India saja tidak begitu. Bahh…
