Publik boleh saja memfavoritkan Noni, Jurien atau Martineli dan Eze, tapi saya lebih tergoda dengan Merino.
Guna Merino adalah menjadi tidak berguna. Namun ketidakbergunaannya itulah yang menjadi gunanya.
Sambil deg-degan menerka Arsenal akan kalah, sepanjang 90 menit lebih pertandingan saya sibuk berpikir apa da bikin La Anu ini. Kira-kira amanah apa yang diembankan Arteta kepada Merino.
Saya menduga mungkin inimilah fungsi rahasia Merino pada pertandingan kontra Bayer Munich tadi subuh. Just being there. Nothin’ less, nothin’ more.
Petugas Spotter di Emirate Stadium sempat menangkap ekspresi Arteta memberi isyarat mata kepada Merino, semacam kasi kode supaya Merino maju beberdiri saja di dekatnya Neuer, pura-pura sibuk di sana, ajak cecerita kalo perlu. Momen itu tepat saat Calafiori hendak melakukan throw in.
Tampangnya terlalu imut untuk pria dengan gen brewokan. Sangat baby face, Entah ini strength atau weakness, yang jelas ini akhirnya membuat dia dikira nda tau main bola, dianggap tidak berbahaya. Seperti psikopat lah, diam-diam, culun, tapi dalam hatinya lagi berpikir siapa lagi da mo sumbele sebentar malam. Unpredictible. Saya mendapati pada banyak momen pertandingan, pemain yang tidak disangka-sangka ini, ternyata berhasil membuat kita berprasangka.
Walaupun tidak cetak gol, tapi saya sadari kontribusi ketidakbergunaanya mengisi posisi yg dipinjamkn Gyokeres tadi malam justru berguna bagi kemenangan tim. Kalau saya analogikkan, dia ibarat kayu-kayu di kebun yang dipakekan baju jelek robe-robe untuk kasi takut-takut binatang. Seem useless but 100 percent powerfull.
Dan, yang lain.
Entah kenapa, tidak seperti biasanya, Lewis Skelly dan Saka kompak, seperti sedang tak mood main. Skelly banyak kalah dalam duel man to man. Mungkin lagi ada masalah keluarga. Saka yang biasa licin menari-nari di pinggir box terlihat lunglai. Begitu juga Trossard, kehilangan daya liuk-liuknya.
Untung saja Arteta peka dengan pemainnya. Bahwa setiap orang ada masanya. Setiap masa ada anunya. Memasukan Calafiori dan Martinelli di saat tepat. Pergantian itu semacam menerapkan meritokrasi pada Noni, ia akhirnya kembali ke habitat alaminya, sisi kanan. Rotasi itu membuahkan malapetaka bagi Munchen. La Noni merobek jala Neuer dengan kepedihan yg begitu amat pedihnya usai menerima crossing genit dari Calafiori yang keringatnya baru dua tetes.
Padahal mereka sempat mo remontada dengan gol sebatang kara yang mereka ciptakan lewat skema umpan lambung. Tapi sayangnya ternyata itu tak lebih dari asam lambung.
Sisi lain, Martineli memang jarang dijadikan starter. Tetapi dia selalu menjawab tunai setiap doa para fans, ketika kita inginkan kemenangan, Martinelli adalah jawabannya. Eksistensinya di Arsenal, membuat club Meriam London itu seperti jagoan India, yang kalah-kalah dulu, habis itu baru menang setelah Martinelli masuk. Bisa jadi ia sekadar membuat equalizer atau memperlebar jarak kemenangan.
Gol pamungkasnya ke gawang Munich di awali assist Bebere Eze. Mendapatkn umpan manis dan manja, penuh birahi kesumat mencetak gol, Martinelli rakus melahapnya. Dengan kecepatan cahaya, ia sprint bak peluru senjata brem, dari tengah lapangan melewati bek dan Neuer yang maju terlalu jauh. Kalo kondisinya begitu, kita hanya bisa order maxim untuk mengejar pemain Brazil itu atau berharap tiba-tiba betisnya kena tikus-tikus.
Bagi sang kapten, La Ode Gaard, pertandingan sesubuh tadi adalah pemanasan saja. Uji coba usai healing dari injury.
Beberapa pekan ini Arsenal menjalani pertandingan berat, usai Totenham dan Munich, Minggu nanti akan bertemu Chelsea. Semoga Cucurela dkk bisa dikuca. Cukur Cucurela.
Go gunners.
