Tak banyak yang tahu, bahwa sebuah ide besar kadang lahir dari pinggiran. Bukan dari kota besar yang hiruk pikuk, tapi dari kejauhan jazirah di tenggara pulau berjuluk Celebes, yang sejak lama menanam mimpi tentang keterhubungan, tentang pariwisata yang tidak hanya megah, tapi juga bermartabat.
Sulawesi Tenggara, dalam diam dan kerja, pelan-pelan menabur benih gagasan itu. Bahwa sudah saatnya Sulawesi berhenti menjadi koloni provinsi-provinsi yang berjalan sendiri-sendiri. Sudah waktunya membangun pariwisata dengan semangat lintas batas, tanpa sekat-sekat administrasi yang memenjarakan potensi.
Andi Sumangerukka, sang gubernur yang juga menakhodai BKPRS, tak datang dengan pidato membahana. Ia datang dengan satu pertanyaan sunyi: “Mengapa kita tidak bersatu?” Dan dari sanalah semuanya dimulai. Sebuah usul yang tampak sederhana, namun mengandung kehendak yang dalam.
Sulawesi, pulau besar yang bersanding dengan laut biru dan gunung hijau, terlalu lama berjalan pincang. Pariwisatanya indah, namun tercecer. Agenda acaranya ramai, namun saling tindih. Jalur transportasinya hidup, namun tak menyambung makna.
Manado menjadi titik temu. Setelah sebelumnya sebuah gagasan bergulir di Toraja dalam seminar “The Legend of Pongtiku,” lalu diteguhkan dalam dialog jarak jauh di balik layar Zoom, kini (24 Juli 2025) para maestro pariwisata di Sulawesi saling tatap dalam satu ruang demi menyetujui arah baru.
Belli, Kepala Dinas Pariwisata Sultra, menyebutnya sebagai “langkah baru”. Satu langkah untuk membangun satu kesadaran. Bahwa Sulawesi bukan sekadar gugusan provinsi yang hidup dalam tumpukkan ego sektoral, melainkan satu ekosistem yang bisa menguatkan bila saling mendukung.
Dari Sultra, ide-ide konkret ditebarkan seperti benih ke tanah yang siap digarap; roadmap pariwisata lintas provinsi, integrasi kalender event agar tak saling tabrak, penyusunan jalur wisata kapal dan darat, promosi bersama hingga penguatan ekosistem investasi resort.
Kita tidak bicara mimpi kosong. Kita bicara dua bandara internasional yang bisa membuka gerbang dunia (di Makassar dan Manado) namun belum menyebarkan arus pengunjung secara merata ke seluruh penjuru mata angin. Kita bicara 16 event Kharisma Nusantara yang sayangnya hega sendiri, seolah tak saling sapa di kalender.
Sulawesi Tenggara membawa harapan agar event-event ini saling menguatkan, bukan saling berebut panggung. Bahwa ketika satu daerah menyelenggarakan festival, yang lain tidak sekadar menonton melainkan ikut mempromosikan, mendukung, dan bahkan mengirim delegasi.
Kita ingin turis tak hanya berhenti di Bunaken atau Pantai Losari, tapi juga berlayar ke Wakatobi, menyeberangi Labengki, atau singgah ke desa-desa wisata di kaki Pegunungan Mekongga.
Dan untuk itu, kita butuh kerja bersama. Butuh rute yang terbuka. Butuh peta yang menyatu. Butuh media, influencer, dan agen perjalanan yang tak hanya menjual “tempat indah,” tapi menjual narasi besar tentang pulau yang bersatu.
Dari Sulawesi Tenggara, ASR tak ingin sekadar dilihat sebagai pengusul. Tetapi menjadi penggerak. Bukan karena merasa paling tahu, tapi karena yakin, bahwa pariwisata yang besar tidak dibangun seorang diri, ia disusun bersama layaknya kepingan mozaik.
Mungkin ini belum akhir. Bahkan belum separuh perjalanan. Tapi bila langkah ini terus dijaga, maka dari tenggara, cahaya itu bisa menjalar ke seluruh arah. Dan Sulawesi, tak lagi menjadi peta yang terpecah, tapi satu wajah yang utuh dalam bingkai wisata nusantara.
Di satu sisi, ikhtiar para Kadis ini adalah langkah-langkah teknokratik. Tapi di sisi lain, ini adalah peristiwa kultural. Sebab untuk pertama kalinya, para pemimpin daerah di Sulawesi mulai meletakkan ego sektoral di pinggir, dan membuka lembar peta besar bernama kolaborasi.
Mungkin, seperti kata orang bijak, perubahan besar tak selalu diawali dengan gemuruh. Kadang cukup dengan kesepakatan diam-diam di ruang sempit, saat kopi hampir habis dan notulen masih terbuka. Tapi jika niatnya kuat, dan langkahnya serempak, maka Sulawesi bukan hanya akan dikenal karena alamnya—melainkan karena cara kerjanya yang saling merangkul.
Dan mungkin, dari tanah Sulawesi, kita akan belajar lagi makna kata “berjalan bersama.” (agr)


Great insights! Thanks for sharing this.