UHO, Kampus yang Menyulam Harapan dari Desa

Membaca Visi Prof. Armid untuk UHO Global

Seperti sebuah kapal yang hendak mengarungi samudra, Universitas Halu Oleo kini kembali menyiapkan layar dan menata arah anginnya. Di bawah kemudi Rektor Prof. Armid, kampus delapan penjuru mata angin itu hendak berlayar lebih jauh, menembus demarkasi lokalitas menuju cakrawala global.

“Inovasi Berkelanjutan Menuju Kampus Global,” bukan sekadar jargon seremonial. Semangat yang menyala pada momentum Dies Natalis ke-44 tahun ini lebih mirip obor kecil di tengah gelap. Sebuah penanda arah ke mana UHO ingin menuju, dari Sulawesi Tenggara, menjejak dunia, dan kelak menyumbangkan sinar bagi cita-cita Indonesia Emas 2045.

Bagi Prof. Armid, perguruan tinggi bukan menara gading, melainkan ladang pengabdian. Visi kampus berdampak yang ia gaungkan mengandung makna bahwa ilmu pengetahuan sejati harus menetes ke tanah, membasahi akar rumput, lalu tumbuh menjadi pohon kesejahteraan.

“Core kita ada di desa,” katanya. Dari desa, kemiskinan dapat ditantang; dari desa pula industrialisasi dapat disemai. Melalui program Desa Mitra Cerdas yang digagasnya, UHO bermimpi di setiap kabupaten punya lokus desa dampingan. Di sana, mahasiswa dan dosen tak sekadar belajar, tetapi juga menyalakan lentera inovasi bagi UMKM lokal, agar denyut ekonomi rakyat tidak hanya berdetak pelan, tetapi berdegup kencang.

Visi pamungkas dari Prof. Armid seolah menjahit kembali jarak yang lama terbentang antara kampus dan masyarakat. Bahwa universitas bukanlah tembok tinggi yang membatasi, melainkan jembatan yang menghubungkan ilmu dan kehidupan nyata.

Globalisasi dalam kacamata Prof. Armid bukanlah arus yang menyeret, melainkan gelombang yang bisa ditunggangi. Ia menyadari bahwa UHO memiliki banyak MoU dengan institusi luar negeri. Namun, perjanjian di atas kertas tidaklah cukup. Yang dituju adalah tindakan nyata semisal PKS (Perjanjian Kerja sama), bisa dalam hal pertukaran mahasiswa, riset bersama, hingga jejaring industri yang membuka pintu lebar bagi mahasiswa Sulawesi Tenggara menimba ilmu di Jepang, Eropa, atau negara lain.

“Tantangannya memang tidak mudah, tapi juga tidak mustahil. Kita punya SDM yang mumpuni,” ujarnya optimis.

Di sinilah lahir gagasan English Day, sebuah eksperimen kultural untuk mengubah wajah akademik UHO. “Mungkin awalnya terasa janggal, tetapi bukankah perubahan besar selalu diawali dari sesuatu yang aneh? Layaknya biji yang ditanam di tanah asing, ia harus berjuang menyesuaikan diri sebelum tumbuh kokoh,” ungkap anggota Japan Geoscience Union itu penuh metafora.

“Saya ingin ketika orang bicara tentang maritim, mereka harus segera teringat pada UHO,” tegasnya.

Namun globalisasi, betapa pun megah, tak boleh menghapus genealogi. Mantan Warek Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UHO itu menyebut mimpi besarnya menjadikan UHO sebagai Maritime Hub Indonesia. “Saya ingin ketika orang bicara tentang maritim, mereka harus segera teringat pada UHO,” tegasnya.

Dengan pembangunan Maritime Hub dan riset pesisir, UHO menambatkan jangkar identitasnya. Sebab laut bukan sekadar bentang biru di peta Sulawesi Tenggara, melainkan rahim kehidupan yang melahirkan budaya, ekonomi, sekaligus peluang masa depan. Jika dunia adalah panggung, maka laut adalah tirai yang membingkai peran UHO di dalamnya.

Apa yang ditawarkan Prof. Armid sejatinya adalah dialektika antara lokalitas dan globalitas. Antara desa sebagai akar, dan dunia sebagai cabang. Antara pengetahuan yang menetes ke sawah dan laut, dengan pengetahuan yang melayang ke ruang-ruang konferensi internasional.

Ia tahu tantangan tidak ringan. Infrastruktur yang terbatas, bahasa asing yang belum mendarah-daging, energi dosen dan mahasiswa yang kadang terserak. Namun, bukankah setiap kapal besar memang ditempa oleh badai?

Dengan visi ini, UHO bukan sekadar bercita-cita mencetak sarjana, tetapi berikhtiar melahirkan manusia-manusia yang sanggup berdiri di panggung global tanpa kehilangan pijakan pada tanah kelahiran dan lautnya sendiri.

Dan mungkin, di situlah letak arti sesungguhnya dari “inovasi berkelanjutan”, menyemai pengetahuan seperti petani menanam padi, dari desa menuju samudra, demi menyongsong fajar Indonesia Emas 2045.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *