Sekarang di kantor tiap jam 10 pagi wajib dengar dan nyanyikan lagu Indonesia Raya. Bukan karena mau upacara, tapi karena negara takut warganya lupa kalo tinggal di Indonesia. Mungkin, biar nasionalisme tetap hidup. Tapi rasa-rasanya nasionalisme kita sudah seperti tanaman hias—harus disiram tiap pagi pake lagu!.
Sejak kebijakan baru turun dari langit birokrasi Pemerintah Sulawesi Tenggara, ada satu suara yang kini lebih sakral dari dering WhatsApp grup kantor: “Paul, Siap-siap …INDONESIA RAYA…”
Gubernur Sultra mengeluarkan edaran, setiap ASN wajib mendengarkan (dan kalau bisa menyanyikan dengan khusyuk) lagu Indonesia Raya setiap pukul 10 pagi. Bukan jam 7, bukan saat apel, tapi pas jam orang mulai enak kerja atau lagi enak-enaknya rebahan di kursi kantor.
Pagi tadi, pukul 09.59 WITA, di Kantor Dinas Pariwisata, begitu lagu mulai berkumandang, suasana berubah 180 derajat. Atmosfer ruangan serasa jadi palagan tempur. Semua mendadak jadi tentara. Pegawai mendadak berdiri bak Patung Jenderal Sudirman. Imajinasi saya liar, menerka di luar Gedung ini pasukan Belanda sudah siap menyerbu. Yang punya darah nasionalisme, pasti dijamin semangatnya membara menuntaskan tugas-tugas dinas.
Entah kenapa rutinitas baru ini seolah menyindir saya secara pribadi. Saya kerap disergap rasa merinding alias bediri bulu-buluku ketika sampai pada bait “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya,…” soalnya, jiwa saya memang suka tidur, apalagi pagi sehabis makan, dan di jam 10. Namun disatu titik tertentu, saya rasa ini jadi relate dengan keseharian saya selama ini.
Kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara yang mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mendengarkan lagu Indonesia Raya setiap hari pada pukul 10 pagi merupakan langkah simbolik yang menarik, namun bagi mereka yang merasa ini kurang urgent, perlu mengkritisinya secara bijak dan konstruktif.
Salah satunya ialah ditakutkan ini berpotensi menjadi formalitas semata. Jika tidak disertai pemahaman makna dan nilai, mendengarkan lagu kebangsaan bisa menjadi rutinitas kosong. Rutinitas ini yang kemudian menggerus makna spiritualitasnya. Seperti katanya Kang Dedi Muliadi, yang maunya apel setahun sekali. Rutinitas hanya akan menjadi beban. Ada risiko semangat nasionalisme justru menjadi tumpul karena dimaknai sekadar kewajiban administratif, bukan sebagai bentuk kesadaran kebangsaan. Tersebab, pukul 10 pagi adalah waktu sibuk kerja. Memaksa seluruh ASN berhenti bekerja pada waktu tersebut bisa mengganggu alur kerja, terutama bagi yang sedang melayani publik, mengikuti rapat daring, atau bekerja di lapangan. Namun, masalah ini dapat diatasi dengan memberikan kebebasan kepada masing-masing OPD untuk menyesuaikan waktu pelaksanaannya agar tidak mengganggu pelayanan publik atau produktivitas kerja.
Nasionalisme dan cinta tanah air tidak hanya tumbuh lewat lagu, tetapi lebih bermakna jika ditunjukkan melalui kinerja nyata ASN dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, menjunjung integritas, dan memperkuat kolaborasi antar sektor.
Di gedung kantor beberapa pegawai tenggelam dalam dunianya sendiri oleh sekat-sekat ruangan yang terpisah, maka mendengarkan lagu kebangsaan pada waktu/tempat yang sama dapat menciptakan momen kolektif — semacam refleksi singkat — yang bisa memperkuat rasa kebersamaan sebagai abdi negara. Ini juga bisa menjadi titik jeda untuk meninjau kembali semangat kerja, silaturahmi dan tanggung jawab kebangsaan.
Saya meraba, sebagai pemimpin yang lahir dari rahim suci prajurit, Gubernur Sultra Andi Sumangerukka ingin merevitalisasi nilai-nilai nasionalisme di era yang semakin individualis. Di tengah masyarakat yang semakin pragmatis dan individualis ini, simbol-simbol kebangsaan seperti lagu Indonesia Raya bisa menjadi alat pengingat tentang pentingnya semangat kolektif, persatuan, dan pengabdian untuk bangsa.
Ia melihat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, semangat nasionalisme mulai tergerus oleh individualisme, ego sektoral, dan bahkan sentimen identitas yang sempit. Lagu Indonesia Raya bukan sekadar lagu, tetapi simbol kebangsaan, pengingat bahwa kita adalah bagian dari rumah besar bernama Indonesia. Dengan mendengarkannya setiap hari, ia ingin membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya rasa memiliki terhadap negeri. Kita perlu membumikan kembali nilai-nilai kebangsaan, bukan hanya di mulut, tapi dalam kesadaran sehari-hari ASN.
Kedisiplinan mendengarkan lagu kebangsaan adalah cermin dari kedisiplinan dalam bekerja dan mengabdi. Pukul 10 pagi adalah waktu di mana aktivitas kantor sedang berjalan aktif. “Indonesia Raya” bisa menjadi momen jeda sejenak, semacam refleksi mini harian: “Sudahkah hari ini saya bekerja untuk kepentingan rakyat dan bangsa?” Sekali lagi ini bukan soal musik, tapi soal nilai.
Di era digital, nilai-nilai luhur juga mudah terkikis. Ia mungkin khawatir, anak-anak muda dan bahkan ASN akan kehilangan arah karena terlalu larut dalam dunia yang serba cepat dan instan. Lagu Indonesia Raya adalah cara sederhana untuk memperlambat ritme sesaat dan mengingat siapa kita, dari mana kita berasal, dan untuk apa kita bekerja. Sudah sepantasnya ASR menjadikan birokrasi sebagai pelindung nilai-nilai kebangsaan, bukan sekadar mesin administrasi.
Jika kebijakan ini konsisten, ini akan menjadi legasi ASR. Ia meninggalkan jejak kebijakan yang tidak hanya bersifat fisik seperti infrastruktur, tapi juga warisan nilai. Kebijakan ini mungkin sederhana, tapi jika dipahami dan dijalankan dengan sepenuh hati, akan menanamkan karakter kebangsaan yang kuat pada setiap ASN Sultra, generasi demi generasi.
Pada akhirnya kita harusnya bersyukur sebagai warga negara Indonesia, karena tidak terlalu dipaksa menyanyikan atau mendengarkan lagu kebangsaan seperti Korea Utara. Kebijakan ini bersifat anjuran/simbolik, tidak terlalu wajib/mutlak yang akan berakhir hukuman jika dilanggar. Kebijakan ini juga sebagai simbol nasionalisme dan pengingat persatuan, bukan sebagai alat kontrol ideologi atau pemujaan terhadap pemimpin. Bahkan di dalam Indonesia Raya kita hanya memuja bangsa dan negara, kita tidak memuja manusia/pemimpin tertentu yang dianggap setara dengan dewa.
Meski dibalut suara fals dan cempreng saat kita menyanyikan Indonesia Raya, sebenarnya ada hal serius yang terselip di balik kebijakan ini. Lagu Indonesia Raya tiap pagi bisa jadi momen kecil untuk kita ingat bahwa kita kerja bukan cuma buat gajian atau absensi. Tapi buat negeri ini. Buat orang tua kita. Buat anak-anak yang kelak akan bilang, “Ibu/Bapakku dulu ASN, seorang pahlawan tanpa tanda jasa—karena jasanya sering kali tidak terasa.”
Kalau antum adalah ASN dan mengalami rutinitas begini… tetap tegak, tenang, dan jangan kore tengongo pas lagu diputar. Itu dosa birokrasi tingkat sedang.(c*)

Thank you for the good writeup It in fact was a amusement account it Look advanced to far added agreeable from you However how could we communicate
Great insights! This really gave me a new perspective. Thanks for sharing.
Diawali dari gedung ASN, nanti berkembang ke warkop, jadi akan baik untuk anak-anak muda yang nongkrong di sana. Pas lagu Indonesia Raya dimainkan, mereka wajib AFK dulu dan bernyanyi bersama.
Website Scam Penipu Indonesia, apem bau apem mamak lu
Website Scam Penipu Indonesia, apem bau apem mamak lu
Website Scam Penipu Indonesia, ngentod maklu ngentod mak lu
Website Scam Penipu Indonesia, ngentod maklu ngentod mak lu
I really like reading through a post that can make men and women think. Also, thank you for allowing me to comment!
Website Scam Penipu Indonesia, ngentod mamak lu lu anak ngentod
Website Scam Penipu Indonesia, lu anak sialanak sial lu
Website Scam Penipu Indonesia, ngentod mamak lu lu anak ngentod
Really interesting read! Getting started with online slots can feel daunting, but platforms like 789betvi seem to prioritize a smooth onboarding process – account setup & verification are key! It’s great to see Vietnamese players catered to specifically. 👍
Nike近年以「Heritage Collection」策略重新詮釋經典。nike 鞋子
Nike LeBron 21 EP實戰評測:LBJ低幫革新與性能解析
從編織密度到肩帶力學,Bottega Veneta斜背包將日常配飾昇華為穿戴藝術。bottega veneta 台灣門市