Entah siapa lagi yang duluankan, bahwa di dalam teluk Kendari bersemayam seekor naga, terkurung, terpenjara dalam sedimen lumpur, tempat hukuman para dewa…. Bahkan, seorang pawang naga sudah repot turun tangan menghanyutkan tiga biji telur ayam kampung. Kita masih menunggu gebrakan petani tomat, yaa minimal klan pengendali Inflasi bisa beraksi. Supaya kita, bisa nyaman makan telur rebus yang di colo-colo pake sambal tomat. Kambaka toh.
Di zaman QRIS sekarang ini, percaya ada naga, rasanya tidak lebih aneh daripada percaya bahwa harga tomat bisa-bisanya melambung jauh, terbang tinggi, bersama mimpi, terlelap dalam lautan emosi, setelah aku sadar diri,………….pergi!!!
Kita tidak mau pergi disitu, mending fokus di naga saja, harga tomat sudah bikin cukup trauma.
Belum lama di Teluk Kendari, ramai peristiwa bunuh diri yang memanfaatkan infrastuktur jembatan bernilai hampir satu triliun, bikin trauma juga sebenarnya, bagi sebagian orang. Namun, disaat logika publik masih sibuk berbelasungkawa dan memikirkan motif serta himpitan hidup macam apa yang dihadapi pelaku, ada-ada saja yang suka kasi “kabur air”, akhirnya narasi liar menggelinding; ada naga itu di teluk, sering memang da memanggil-manggil.
Dan ketika narasi itu diamplifikasi oleh media lalu sampai ke ruang dengar kita, ekpresi saya juga sama persis, waktu beli tomat depan lorong. Bukan speechless, cuma speech delay. Lima ribu hanya dapat dua biji, baru kekecilnya. Setidaknya, sama dengan naga kek, dapat tiga biji. Tomat zaman sekarang sudah lebih lombo daripada pedis!
Kembali ke naga, maka, meminjam imajinasi George R.R Martin dalam bukunya a Song of Ice and Fire, terdapat suku Targaryen, suku penakluk naga. Naga membuat klan mereka superior atas suku-suku lainnya, hingga menjadi penguasa di dua benua; Essos dan Westeros. Memiliki naga dalam imajinasi tersebut sama hal dengan memiliki senjata Nuklir di era modern sekarang ini. Bisa dibilang, Israel, Amerika, punya naga.
Di era sains dan teknologi, segalanya terukur oleh data dan pembuktian eksperimen. Keyakinan dan kepercayaan manusia modern memang dibentuk oleh dua hal tersebut. Tentang naga, tidak ada bukti penemuan fosil yang pasti. Tidak ada referensi/dokumentasi ilmiah yang shahih. Akan tetapi, dari gua kuno di Eropa sampai ukiran kayu di Asia Timur, sosok naga muncul.
Bagaimana mungkin, makhluk yang sering saya lihat di felem, muncul hampir seragam dalam mitologi berbagai suku bangsa di dunia, padahal mereka terpisah samudra bahkan ribuan tahun sejarah? Ngeri juga sebenarnya kalau ini sekadar produk imajinasi kolektif umat manusia, atau yang lebih konspiratifnya, jan sampe ada kebenaran tersembunyi yang tidak diungkapkan oleh keluarga Rothschild?…
Salah satu teori untuk menjawabnya ialah bahwa manusia tidak saja makhluk rasional, tetapi juga pencerita ulung, alias bacrit. Imajinasi manusia tidak serta-merta mati ketika tahu bahwa naga tidak nyata, Justru sebaliknya, ketika tahu bahwa dunia ini terbatas, manusia menciptakan naga; makhluk lain yang melampaui batas-batas realitas.
Pada hampir semua peradaban, naga dideskripsikan sebagai mahkluk hibrida. Meskipun populer dalam dunia fiksi, sebetulnya naga terinspirasi dari folklore dan mitologi.
Peradaban Mesopotamia Kuno misalnya, mendokumentasikan naga secara tertulis dengan sebutan Mushussu, sejenis ular ganas, bersisik, punya cakar elang, ekor panjang, bertanduk, kaki seperti Singa. nda jelas ini hewan. Mesir menyebutnya Apep (Aphopis). Dalam Alkitab Ibrani menyebut naga sebagai Leviathan, makhluk laut raksasa. Bangsa Yunani mengenal Typhon, hewan bersayap dan bisa menyemburkan api dan Learnaean Hydra, naga berkepala Sembilan yang dibunuh oleh Hercules. Kebudayaan Tiongkok menyebut naga sebagai Long, makhluk yang dihormati dan disembah karena peringkatnya yang tinggi, yang masa kecilnya di temani kartun Goku, pasti familiar dengan naga ini.
Antropolog dari University of Central Florida (UCF), Dr. David E Jones, menyebut konsep tentang naga muncul akibat adanya ketakutan pada hewan ular (ophidiophobia). Menurutnya phobia yang diwariskan dari predator ini, menyebabkan naga muncul pada hampir semua peradaban manusia.
Manusia pada zaman dahulu cenderung menciptakan dan menyembah sesuatu yang mereka takuti. Ketika ada penemuan tulang belulang hewan-hewan gigantic, mereka membayangkan lalu mengonstruksinya di dalam kepala, kemudian menyusunnya menjadi makhluk fantastis, semacam naga. Inilah yang menyebabkan mengapa sosok naga memiliki karakteristik yang beda-beda tipis disetiap peradaban.

Naga di Kebudayaan Buton
Sebagai makhluk mitologis, naga telah lama menjelma simbol kekuatan, keberuntungan, dan kebijaksanaan dalam berbagai budaya di seluruh dunia. Jika meminjam imajinasi George R.R Martin tadi, yang mengatakan naga memiliki peran penting bagi klan Targaryen dalam membentuk tirani dan legitimasi, maka koneksi itu dalam konteks lokal kebudayaan Buton memiliki konsep dan makna yang tak jauh berbeda.
Kebudayaan Buton mengenal naga dengan sebutan Lawero, yang berarti hewan kecil panjang berwarna abu-abu, bentuknya mirip dengan naga umumnya, seperti ular tetapi memiliki rumbai disekujur badannya, ukurannya mungil sebesar jari manusia dan sering terlihat di tumbuhan liar (pohon libo), memiliki jengger, uniknya Lawero juga bisa berkokok seperti ayam.
Masyarakat percaya bahwa melihat Lawero adalah hal yang luar biasa, sebab ia hanya bisa dilihat dan ditemukan oleh orang tertentu saja. Di suatu Magrib di pesisir pantai Desa Walengkabola, istri saya pernah terkejut, katanya ia melihat naga melintas di langit. Entahlah, dia mabo atau da kasi bodo-bodoi saya lagi mungkin.
Dokumentasi Lawero tertua dapat ditemukan pada bumbungan atap istana Malige Sultan Buton ke-37, La Ode Muhammad Hamidi Qaimuddin Khalifatul Khamis (1928-1937). Ukiran Lawero itu di buat pada kurun waktu 1930-an. Untuk menemukan ukirannya yang ter-update dapat ditemui di Baruga Kesultanan dan batu Popaua yang berada dalam Kawasan Benteng Keraton Buton.
Penggunaan simbolisme naga dalam kultur kebudayaan Buton juga adalah bentuk penghormatan terhadap raja pertama Kerajaan Buton yang berasal dari Cina, bernama Chan atau Ratu Wa Kaa Kaa. Selain itu, naga juga melambangkan kekuatan, keberanian, dan perlindungan, yang mencerminkan karakter masyarakat Buton dan kekuasaan kerajaan. Kehadiran simbol naga ini menunjukkan jejak sejarah perdagangan, kebudayaan, dan pengaruh Cina yang pernah hadir di tanah Buton. Bahkan hingga sekarang ornament berbentuk Lawero (naga) masih dapat di temukan pada atap-atap rumah pemukiman penduduk.
Kosmologi Buton, mengenal naga atau Lawero sebagai lambang pelindung dan kekuatan kosmis, penjaga negeri dan warisan leluhur. Simbol ini tercermin dalam arsitektur, pakaian adat, hingga filosofi kepemimpinan sultan.
Bagi saya, kepercayaan terhadap naga bukan soal benar atau salah, nyata atau tidak, melainkan tentang kebutuhan manusia untuk berimajinasi, untuk menaruh harapan, bahkan rasa takut, pada sesuatu yang belum bisa terjangkau. Naga, dalam banyak budaya, adalah cermin dari kekuatan; entah sebagai musuh yang harus ditaklukkan, atau pelindung yang harus dihormati.
Dan, jika ditanya, jadi kopercaya naga ato tida? Tidak, dalam arti biologis. Tapi dalam dunia simbolisme, dalam mimpi, dalam cerita yang mengajarkan kita tentang keberanian dan ketamakan. Naga itu nyata, tomat itu mahal.(agr)
